Ada kesalahan di dalam gadget ini
Headline News :

Kamis, 17 Juni 2010

BELAJAR MEMBACA PADA ORANG DEWASA MELALUI PENDIDIKAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL

Jika kebiasaan membaca kurang dibangun, tak jarang orang dewasa yang baru melek aksara pun, tidak tertarik dengan buku dan kegiatan membaca, sehingga mereka kembali menjadi buta aksara. Maka dari itu, tidaklah berlebihan jika pemerintah menyediakan media belajar membaca (yang sudah ada, misalnya: TBM/Taman Bacaan Masyarakat, Mobil Pintar, Perpustakaan Keliling), untuk warga masyarakat yang memiliki antusias terhadap buku dan kegiatan membaca, meskipun mereka bukan dari golongan masyarakat berkelas. Hal tersebut mungkin mendatangkan kontroversi, dengan alasan bahwa karakter dan kebutuhan orang dewasa lebih bersifat praktis dan fungsional serta sesuai dengan kebutuhan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga mereka tidak tertarik pada buku dan kegiatan membaca, jika buku dan kegiatan membaca tersebut tidak bisa difungsikan dalam kehidupan sehari-hari terutama terkait dengan kebutuhan sehari-hari yang pemenuhannya memang tidak mungkin ditunda. Karena karakter orang dewasa seperti tersebut diatas, maka bagi orang dewasa yang masih buta aksara dan orang dewasa yang baru mulai belajar membaca, disediakan wahana untuk belajar membaca melalui program Pendidikan Keaksaraan Fungsional, yang dalam metode pembelajarannya menggunakan pendekatan andragogi, yaitu suatu suatu ilmu dan seni untuk membantu orang dewasa belajar.
Dalam program keaksaraan fungsional perlu menggunakan pendekatan andragogi selain mengingat bahwa orang dewasa punya karakter dan kebutuhan yang bersifat praktis, juga mengingat bahwa terdapat prinsip-prinsip belajar orang dewasa yang harus kita hargai, manakala kita membantu para orang dewasa untuk belajar.
Prinsip-prinsip belajar orang dewasa tersebut adalah:
1. Pembelajaran harus berorientasi pada masalah (problem oriented)
2. Pembelajaran harus berorientasi pada pengalaman peserta didik (experience oriented)
3. Pengalaman belajar harus penuh makna (meaningfull) bagi peserta didik.
4. Peserta didik bebas untuk belajar sesuai dengan pengalamannya
5. Tujuan belajar harus ditentukan dan disetujui oleh peserta didik
6. Peserta didik harus memperoleh umpan balik tentang pencapaian tujuan.
Dengan tidak meninggalkan prinsip-prinsip tersebut diatas dalam membantu para orang deawasa belajar, maka diharapkan pencapaian hasil belajar bisa sesuai dengan apa yang diharapkan penyelenggara pendidikan, pendidik (tutor), maupun peserta didik (warga belajar),
Pembelajaran Keaksaraan Fungsional
Dimyati (2006) menyatakan bahwa pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
Keaksaraan Fungsional merupakan suatu pendekatan atau cara untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca, berhitung, mengamati dan menganalisa yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari serta memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya (Direktorat Dikmas, 1998). Sementara itu, tentang pengertian keaksaraan fungsional, Umberto Sihombing (1999) menyatakan, Keaksaraan Fungsional adalah pengembangan dari program pemberantasan buta huruf yang bertujuan meningkatkan keaksaraan dasar warga masyarakat buta aksara sesuai dengan minat dan kebutuhan hidupnya.
Bertolak dari pengertian-pengertian tersebut diatas, maka pembelajaran keaksaraan fungsional dapat diartikan sebagai proses belajar mengajar untuk mengembangkan kemampuan penyandang buta aksara, fungsional dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca dan berhitung, mengamati dan menganalisa yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari serta memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya sebagai sumber belajar.
Konsep Dasar Belajar Membaca Bagi Orang Dewasa.
Menurut Montessori, membaca adalah bahasa yang ditulis. Membelajarkan membaca pada orang dewasa berbeda dengan membelajarkan membaca pada anak-anak, karena orang dewasa sudah punya sikap hidup, pandangan terhadap nilai-nilai hidup, minat, kebutuhan, ide/gagasan, hasrat-hasrat dan dorongan-dorongan untuk melakukan suatu perbuatan. Orang dewasa juga sudah banyak pengalaman-pengalaman hidup (lebih banyak dari oada anak-anak), dan pengalaman tersebut merupakan sumber yang paling kaya dalam proses belajar orang dewasa.
Pengalaman menunjukkan bahwa membaca paling efektif dimulai dari sesuatu yang bermakna, terdekat dan melekat dengan dirinya, kemudian meluas dan melebar dari tahapan yang satu ke tahapan berikutnya. Sesuatu yang bermakna, terdekat, dan melekat pada diri orang dewasa misalnya “nama diri”. Meskipun mereka buta aksara, tidak mengalami kesulitan untuk melafalkan nama dirinya.
Orang dewasa yang buta aksara juga akan lebih mudah memahami suatu hal apabila itu dapat diterapkannya melalui beberapa panca indera (penglihatan, pendengaran, perasaan dan lain-lain), lebih-lebih apabila dihayati dengan melakukannya sendiri, seperti kata pepatah ”I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand”.
Dari uraian diatas, bisa disimpulkan bahwa membelajarkan membaca pada orang dewasa, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Mulai dari sesuatu yang bermakna bagi dirinya.
2. Hal-hal yang dibaca harus mempunyai arti/makna yang jelas, dan dimulai dari yang terdekat dengan dirinya.
3. Belajar membaca dimulai dari hal-hal yang konkrit dan sudah dikenal.
4. Gunakan kata-kata yang sifatnya repetisi dan sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Metode Pembelajaran Membaca Pada Orang Dewasa Dalam Pendidikan Keaksaran Fungsional.
1. Metode PPB (Pendekatan Pengalaman Berbahasa)
Dalam metode PPB ini bahasa yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah bahasa yang dikenal/dipakai peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara Tutor meminta peserta didik untuk mengucapkan sebuah kalimat. Kalimat tersebut ditulis pada kertas, lalu dibaca bersama-sama. Setelah itu kertas dipotong menjadi kata per kata, tutor membantu peserta didik untuk mengingat kata-kata diatas dengan menggunakan permainan, diantaranya : buka tutup, memindahkan posisi, dsb.
2. Metode SAS (Struktur Analisis Sintesis)
Dalam metode SAS ini, tutor menulis kalimat yang lengkap terdiri dari dari subyek, predikat, obyek dan keterangan (SPOK), lalu
tutor dan peserta didik bersama-sama membaca kalimat tersebut sampai peserta didik memahami arti kalimat tersebut. Kemudian kalimat tersebut diuraikan menjadi kata, suku kata sampai menjadi huruf. Pada tahap ini peserta didik selain memahami arti kalimat dan kata per kata, juga belajar untuk menghafal dan melafalkan huruf-huruf yang membangun kata dan kalimat tersebut.
3. Metode Kata Kunci
Dalam metode kata kunci, kata-kata kunci yang akan dijadikan bahan belajar dipilih dari berbagai alternatif kata yang diajukan oleh para peserta didik, kemudian kata-kata tersebut digunakan untuk memancing pikiran kritis peserta didik, sejak awal kegiatan sampai akhir kegiatan.
4. Metode Suku Kata
Suatu metode yang diawali dengan pengenalan dan pemahaman terhadap suku kata tertentu yang mudah dibentuk, ditulis dan dilafalkan, dan yang paling banyak digunakan dalam pengucapan. Kemudian suku kata tersebut diuraikan menjadi huruf , dan huruf-huruf tersebut dbentuk menjadi suku kata yang baru, sehingga pserta didik memahami betul.
5. Metode Abjad
Dalam metode abjad ini, peeserta didik tidak hanya sekedar mengenal lambang bunyi dari A sampai Z, yang belum tentu bermakna bagi mereka. Akan tetapi peserta didik membuat bahan belajar dengan kata-kata yang dipilihnya sendiri, yang sesuai minat, kebutuhan dan bermakna bagi peserta didik serta sesuai dengan situasi di lingkungan sekitarnya.
Metode ini bisa dilakukan dengan cara peserta didik diminta membuat kata-kata, lalu pada setiap kata tersebut kita tunjukkan abjad apa yang mengawalinya. Misalnya kata Bola, huruf awalnya adalah B, kata sapu, huruf awalnya adalah S, Kartini huruf awalnya adalah K, dan lain-lain.
6. Metode Transliterasi
Dalam metode ini, mengalihkan aksara dan angka dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Mengingat di Indonesia sebagian peserta didik sudah melek aksara dan angka ”Arab”, namun masih buta aksara dan angka ”Latin”, maka dalam kaitan ini yang dimaksud metode tranliterasi ini adalah mengalihkan bentuk aksara dan angka Arab ke bentuk aksara dan angka latin., dengan syarat: memperhatikan kedekatan pelafalan antara kedua aksara yang bersangkutan.
7. Metode Iqra
Metode ini adalah cara belajar secara sistematis dimulai dari hal-hal yang sederhana, meningkat setahap demi setahap (dari huruf menjadi suku kata, dari suku kata menjadi kata dan akhirnya menjadi kalimat). Misalnya:
A BA
A BA BA A BA BA
BA A BA A BA BA BA BA A
TU BA TU TU BA
TA BA TA TA BA
BA TU BA TA
BU AT BU AT
BU AT BA TU BA TA
BU DI
BU DI BU AT BA TU BA TA

Belajar Membaca Dengan Multi Metode
Dalam penerapannya membelajarkan orang dewasa membaca, sebaiknya menggunakan mulitu metode sekaligus, tanpa harus merasa tabu hanya karena teori yang kita peroleh dianggap paling rasional. Dengan kata lain, dalam membantu orang dewasa belajar membaca melalui program pendidikan keaksaraan fungsional, kita bisa memperkenalkan kepada orang dewasa buta aksara tentang semuanya, baik itu huruf, suku kata maupun kata-kata dengan beberapa metode tersebut diatas. Dengan catatan penting, tentu saja penyajiannya sesuai dengan karakter dan kebutuhan orang dewasa, yaitu : (a) Harus selalu ingat bahwa orang dewasa sudah banyak pengalaman hidupnya, (b) Menggunakan pendekatan andragogi, (c) Memanfaatkan pengalaman orang dewasa sebagai bahan belajar, (d) Memnafaatkan potensi yang di sekitar untuk sumber belajar.
Dengan dmikian, para orang dewasa yang belajar tersebut tidak merasa digurui dan merasa diterima apapun adanya mereka. Hal itu jauh lebih berarti dan lebih efektif daripada segudang metode terhebat sekalipun.
Nah, jangan berhenti membelajarkan orang dewasa yang masih buta aksara, mengingat bahwa sebagai manusia sebaiknya memang tidak berhenti belajar. Sehingga akan terwujud masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Semoga..............

0 komentar: