The campus autonomy policy that was launched in 2000 has resulted in a cut in government subsidies for state universities and, consequently, an increase in admission and tuition fees. It seems now that only those from well-off families have access to higher education. National Education Ministry's Director General of Higher Education Fasli Jalal talked about the issue with The Jakarta Post's Erwida Maulia.
Question: Since the government launched the campus autonomy policy, tuition fees at state universities have been continuously increasing from year to year. Why is it so?
Rabu, 23 Juni 2010
Wahai Dosen, Berbicaralah dengan Bahasa Manusia!
Itulah teriakan para mahasiswa kepada dosennya, yang mungkin nggak pernah tersampaikan, dan saya yakin akan menjadi blunder kalau diungkapkan. Kecuali bagi para mahasiswa yang memiliki kebebasan nilai IPK, kebebasan pola pikir, kebebasan penelitian, kebebasan finansial dan kebebasan ketergantungan serta ketaatan kecuali kepada satu yang Diatas. Mahasiswa pedjoeang yang tetap mau mengatakan kebenaran meskipun itu sangat sulit, pahit dan sakit. Tidak saya rekomendasikan, karena ungkapan semacam "Sensei no jugyo wa sonna naiyo deshitara, i-me-ru de okutta hou ga yoi dewanai deshouka?" (kalau isi kuliahnya kayak gitu, lebih baik kalau anda kirimkan ke saya lewat email saja prof) :) , saya jamin akan membuat nilai kita jadi Fuka alias tidak lulus. Jangan dilakukan, cukup saya yang jadi korban harus mengambil mata kuliah yang sama selama tiga tahun berturut-turut, sampai akhirnya harus puas mendapatkan nilai Ka alias C dari sang Professor. Professorku yang akhirnya jadi sahabatku dan membimbing penelitianku, meskipun tetap tidak bisa menghilangkan cacat nilaiku :DMENINGKATKAN BUDAYA MEMBACA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT KAMPUS
Membaca. Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata itu? Sebagian ada yang berfikir membaca adalah kegiatan yang membosankan. Ada juga yang mengatakan bahwa membaca hanya menyita waktu, tenaga dan pikiran. Bahkan ada yang berasumsi bahwa membaca bukanlah kegiatan yang bermanfaat karena tidak menghasilkan materi. Padahal, kalau kita mau berpikir kritis, kita akan menemukan begitu banyak manfaat dari kegiatan membaca. Dengan membaca suatu bacaan, seseorang dapat menerima informasi, memperdalam pengetahuan, dan meningkatkan kecerdasan. Pemahaman terhadap kehidupan pun akan semakin tajam karena membaca dapat membuka cakrawala untuk berpikir kritis dan sistematis. Hanya dengan melihat dan memahami isi yang tertulis di dalam buku pengetahuan maupun pelajaran, membaca bisa menjadi kegiatan sederhana yang membutuhkan modal sedikit, tapi menuai begitu banyak keuntungan.Masalah Pendidikan di Indonesia
Peran Pendidikan dalam PembangunanPendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia unuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bab ini akan mengkaji mengenai permasalahan pokok pendidikan, dan saling keterkaitan antara pokok tersbut, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya dan masalah-masalah aktual beserta cara penanggulangannya.
Apa jadinya bila pembangunan di Indonesia tidak dibarengi dengan pembangunan di bidang pendidikan?. Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk. Jika hal tersebut terjadi, bidang ekonomi akan bermasalah, karena tiap orang akan korupsi. Sehingga lambat laun akan datang hari dimana negara dan bangsa ini hancur. Oleh karena itu, untuk pencegahannya, pendidikan harus dijadikan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri ini.
Mengapa Harus Meneliti
Setiap orang bisa saja meneliti. Namun tidak semua orang mampu meneliti dengan baik dan benar (valid and reliable). Bahkan, bagi seseorang yang telah memiliki pengalaman penelitian yang banyak masih sering mengalami kesalahan. Bisa dibayangkan bagi kita yang masih kurang atau bahkan tidak memiliki pengalaman penelitian sama sekali. Tentunya kesalahan-kesalahan dalam membuat kerangka berpikir ilmiah untuk ditorehkan dalam penelitian merupakan hal yang wajar.
TIPS BELAJAR BAHASA INGGRIS
Bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional yang digunakan oleh seluruh negara di dunia. Peranan dan pengaruh bahasa Inggris sangat besar dalam kehidupan terutama yang berhubungan dengan dunia pendidikan, mulai dari sekolah dengan level terendah sampai tertinggi yaitu dari Playgroup/Taman Kanak-Kanak - Perguruan Tinggi serta di dunia kerja, bahasa Inggris juga telah menjadi syarat mutlak jika ingin mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan baik itu lokal maupun asing. Oleh karena itu, tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa Inggris sangatlah penting walaupun dalam penguasaannya ditemukan cukup banyak kendala terutama bagi negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, salah satunya adalah Indonesia. yang antara lain masih kurangnya motivasi dan keberanian untuk berbahasa Inggris, masih minimnya pengetahuan tentang bahasa Inggris, mind set masyarakat yang menganggap bahwa bahasa Inggris itu sulit, dll. Namun, permasalahan seperti itu tidaklah akan menjadi kendala yang berarti jika kita terus berusaha dan menerapkan cara jitu untuk memahami dan menguasainya,MANUSIA BERJUDUL DOSEN
Berkatalah seorang bijak pada suatu RUANG dan WAKTU yang lalu :
"Para guru adalah Arsitek Jiwa Manusia"
Makna yang terkandung didalam kalimat tersebut, jelas mahasiswa dan Alumni suatu perguruan tinggi akan selalu menjadi cermin yang menyatakan segala kegagalan, kesuksesan dan kekurangan dari para guru / dosennya, inilah yang dinamakan REFLEKTOR MORALITAS.
Seorang filsuf Inggris JOHN LOCKE menyatakan hati seorang anak (calon Siswa Baru) merupakan "TABULA RASA" mempunyai arti ; Kertas kosong yang putih) dan tergantung apa yang akan diberikan kepadanya dan apa yang akan dituliskan kepadanya.
jika pernyataan ini dibaca dan dipahami dengan cermat, akan terlihat jelas setiap siswa baru akan menjadi satu alat 'pembersih dan pencuci bathin' bagi jiwa gurunya atau dosennya,sebab apa...? Karena pada saat ketika mengajar mahasiswa baru dengan segala ilmu dan seni yang belum mereka ketahui, pada saat itu juga si siswa baru mengajarkan kepada dosen akan kepolosan, keikhlasan, kejujuran dan tanpa topeng kemunafikan. Hal ini penting untuk para pendidik, sebagai sarana pencucian mata hati jiwa, KARENA DOSEN ADALAH ARSITEK JIWA MANUSIA.
"Para guru adalah Arsitek Jiwa Manusia"
Makna yang terkandung didalam kalimat tersebut, jelas mahasiswa dan Alumni suatu perguruan tinggi akan selalu menjadi cermin yang menyatakan segala kegagalan, kesuksesan dan kekurangan dari para guru / dosennya, inilah yang dinamakan REFLEKTOR MORALITAS.
Seorang filsuf Inggris JOHN LOCKE menyatakan hati seorang anak (calon Siswa Baru) merupakan "TABULA RASA" mempunyai arti ; Kertas kosong yang putih) dan tergantung apa yang akan diberikan kepadanya dan apa yang akan dituliskan kepadanya.
jika pernyataan ini dibaca dan dipahami dengan cermat, akan terlihat jelas setiap siswa baru akan menjadi satu alat 'pembersih dan pencuci bathin' bagi jiwa gurunya atau dosennya,sebab apa...? Karena pada saat ketika mengajar mahasiswa baru dengan segala ilmu dan seni yang belum mereka ketahui, pada saat itu juga si siswa baru mengajarkan kepada dosen akan kepolosan, keikhlasan, kejujuran dan tanpa topeng kemunafikan. Hal ini penting untuk para pendidik, sebagai sarana pencucian mata hati jiwa, KARENA DOSEN ADALAH ARSITEK JIWA MANUSIA.
Manfaat Elearning / E-Learning - Pembelajaran Online via Internet atau Intranet Services
Semakin banyak perusahaan dan individu yang memanfaatkan e-learning sebagai sarana untuk pelatihan dan pendidikan karena mereka melihat berbagai manfaat yang ditawarkan oleh pembelajaran berbasis web - internet ini. Dari berbagai komentar yang dilontarkan, ada tiga persamaan dalam hal manfaat yang bisa dinikmati dari e-learning.
Fleksibilitas
Jika pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan siswa untuk hadir di kelas pada jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok dengan kegiatan rutin siswa), maka e-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran.
Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan palmtop, bahkan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses e-learning. Berbagai tempat juga sudah menyediakan sambungan internet gratis (di bandara internasional dan cafe-cafe tertentu), dengan demikian dalam perjalanan pun atau pada waktu istirahat makan siang sambil menunggu hidangan disajikan, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk mengakses e-learning.
Fleksibilitas
Jika pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan siswa untuk hadir di kelas pada jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok dengan kegiatan rutin siswa), maka e-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran.
Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan palmtop, bahkan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses e-learning. Berbagai tempat juga sudah menyediakan sambungan internet gratis (di bandara internasional dan cafe-cafe tertentu), dengan demikian dalam perjalanan pun atau pada waktu istirahat makan siang sambil menunggu hidangan disajikan, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk mengakses e-learning.
Senin, 21 Juni 2010
Waspadalah 12 Penyakit Yang Rentan Diderita Oleh Para Pendidik
Dari Mendiknas himbauan : Waspadalah 12 penyakit yang rentan diderita oleh para Pendidik, yaitu :
1. TIPUS : TIdak PUnya Selera
2. MUAL : MUtu Amat Lemah
3. KUDIS : KUrang DISiplin
4. ASMA : ASal MAsuk kelas
5. KUSTA : KUrang STrAtegi
1. TIPUS : TIdak PUnya Selera
2. MUAL : MUtu Amat Lemah
3. KUDIS : KUrang DISiplin
4. ASMA : ASal MAsuk kelas
5. KUSTA : KUrang STrAtegi
14 Jenis Dilombakan Dalam Jambore PTK-PNF
Kepala UPTD- SKB Tenggarong Seberang Ida Wahyu Sayekti, M.Pd mengatakan bahwa UPT Sanggar kegiatan belajar merupakan salah satu institusi pemerintah daerah yang memiliki tanggungjawab dan kewenangan dalam melaksanakan pembinaan dan peningkatan mutu PTK-PNF. Hal tersebut juga salah satu upaya membantu dinas pendidikan untuk memberikan penghargaan bagi PTK-PNF yang berprestasi dalam pelaksanaan tugas profesionalismenya.Salah satu bentuk penghargaan diwujudkan dalam even jambore PTK PNF yang meliputi lomba karya nyata (LKN), Lomba Karya Tulis (LKT) perlombaan olahraga seni. "Perlombaan ini dilaksanakan dalam bentuk jambore PTK-PNF tingkat SKB Tenggarong, sebagai ajang kompetensi dari 6 kecamatan wilayah kerja SKB Tenggarong untuk saling tukar pikiran dan pengalaman dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya masing-masing," kata Ida Wahyu Sayekti Selasa (6/4) kemarin.
CATATAN KAKI JAMBORE 1000 PTK PNF
Jambore 1000 PTK PNF Tingkat Nasional di Yogyakarta yang baru saja berakhir menyisakan beberapa catatan yang dapat dijadikan perenungan kita bersama sebagai pelaku dan pemangku kepentingan pendidikan nonformal.
Ketika diputuskan penyelenggaraan Jambore PTK PNF Tingkat Provinsi diserahkan oleh UPTD/UPT BPKB/BPPNFI/P2PNFI saya menduga akan terjadi persaingan ketat dalam kompetisi pada tahun ini. Hal ini didasarkan bahwa teman-teman Pamong Belajar memiliki waktu yang cukup dibanding teman-teman di Dinas karena mereka volume pekerjaannya relatif lebih tinggi sehingga mampu menyiapkan kontingen dengan lebih baik. Disamping itu saya melihat bahwa ada ekspektasi yang tinggi pada diri teman-teman di UPTD/UPT untuk meraih prestasi pada ajang Jambore 1000 PTK PNF Tingkat Nasional tahun ini. Namun demikian ketika diumumkan prestasi masing-masing mata lomba ternyata kekuatan belum banyak bergeser antara DIY dan Jawa Tengah. Walaupun demikian terdapat 23 provinsi yang mampu meraih prestasi peringkat pertama, kedua dan ketiga.
Ketika diputuskan penyelenggaraan Jambore PTK PNF Tingkat Provinsi diserahkan oleh UPTD/UPT BPKB/BPPNFI/P2PNFI saya menduga akan terjadi persaingan ketat dalam kompetisi pada tahun ini. Hal ini didasarkan bahwa teman-teman Pamong Belajar memiliki waktu yang cukup dibanding teman-teman di Dinas karena mereka volume pekerjaannya relatif lebih tinggi sehingga mampu menyiapkan kontingen dengan lebih baik. Disamping itu saya melihat bahwa ada ekspektasi yang tinggi pada diri teman-teman di UPTD/UPT untuk meraih prestasi pada ajang Jambore 1000 PTK PNF Tingkat Nasional tahun ini. Namun demikian ketika diumumkan prestasi masing-masing mata lomba ternyata kekuatan belum banyak bergeser antara DIY dan Jawa Tengah. Walaupun demikian terdapat 23 provinsi yang mampu meraih prestasi peringkat pertama, kedua dan ketiga.
Sebuah Catatan Lomba Jambore PTK PNF Tingkat Propinsi
Beberapa hal yang perlu sebagai menjadi evaluasi bagi Panitia Penyelenggara :
1. Sarana untuk presentasi peserta ( Slide Proyektor/LCD) menjadi alat vital untuk mempresentasikan karya blog. Sangat menyedihkan jika semua peserta telah mempersiapkan slide prestasi tapi saat presentasi tidak tersedia LCD Proyektor.
2. Khusus untuk Lomba Blog sangat diperlukan akses internet dengan bandwidth yg cukup. Hal ini sangat membantu peserta untuk melakukan demostrasi aspek teknis pembuatan blog. Pada kenyataannya saat lomba blog tidak ada akses internet ( kalaupun ada sangat minim dengan akses modem USB Flash yang sangat lemot.
3. Dewan juri yang independen. (dari beberapa informasi Dewan juri dan juga pengakuan Juri secara lisan, ada yang berasal dari Lembaga Kursus yang juga menjadi Peserta Lomba Pengeloan Blog. dll). Hal ini akan menimbulkan kesangsian akan objektifitas Penilaian.
Beberapa hal yang perlu dipahami oleh Dewan Juri :
1. Pemahaman kolektif dan mendalam tentang PTK PNF, beserta unsur yang menjadi system pada PTK PNF itu sendiri. PTK PNF itu tidak berdiri sendiri tetapi Struktur yang saling melengkapi dan memililiki keterkaitan satu sama lain dalam hal birokrasi, administrative, kelembagaan dan banyak aspek lainnya.
2. Waktu untuk Presentasi yang cukup sempit disediakan untuk masing-masing peserta (13 menit Presentasi)
3. Perlu Dewan Cermati Persyaratan Blog Untuk Lomba (sesuai Juknis) yaitu. Blog harus telah published minimal 2 bulan sebelum Presentasi.
b. Minimal memiliki 16 (enambelas) kali Postingan ( 2 kali posting per minggu)
1. Sarana untuk presentasi peserta ( Slide Proyektor/LCD) menjadi alat vital untuk mempresentasikan karya blog. Sangat menyedihkan jika semua peserta telah mempersiapkan slide prestasi tapi saat presentasi tidak tersedia LCD Proyektor.
2. Khusus untuk Lomba Blog sangat diperlukan akses internet dengan bandwidth yg cukup. Hal ini sangat membantu peserta untuk melakukan demostrasi aspek teknis pembuatan blog. Pada kenyataannya saat lomba blog tidak ada akses internet ( kalaupun ada sangat minim dengan akses modem USB Flash yang sangat lemot.
3. Dewan juri yang independen. (dari beberapa informasi Dewan juri dan juga pengakuan Juri secara lisan, ada yang berasal dari Lembaga Kursus yang juga menjadi Peserta Lomba Pengeloan Blog. dll). Hal ini akan menimbulkan kesangsian akan objektifitas Penilaian.
Beberapa hal yang perlu dipahami oleh Dewan Juri :
1. Pemahaman kolektif dan mendalam tentang PTK PNF, beserta unsur yang menjadi system pada PTK PNF itu sendiri. PTK PNF itu tidak berdiri sendiri tetapi Struktur yang saling melengkapi dan memililiki keterkaitan satu sama lain dalam hal birokrasi, administrative, kelembagaan dan banyak aspek lainnya.
2. Waktu untuk Presentasi yang cukup sempit disediakan untuk masing-masing peserta (13 menit Presentasi)
3. Perlu Dewan Cermati Persyaratan Blog Untuk Lomba (sesuai Juknis) yaitu. Blog harus telah published minimal 2 bulan sebelum Presentasi.
b. Minimal memiliki 16 (enambelas) kali Postingan ( 2 kali posting per minggu)
Jumat, 18 Juni 2010
KEMDIKNAS TARGETKAN DAYA TAMPUNG UNIVERSITAS NAIK 30 PERSEN
Jakarta, 17/6/2010 (Kominfo Newsroom) – Kementerian PendidikanNasional (Kemendiknas) menargetkan penambahan kapasitas atau porsimahasiswa baru di perguruan tinggi akan naik 30 persen pada tahun2014.Untuk mencapai target itu, Kemendiknas memberikan hibah ataublock grant, baik kepada perguruan tinggi negeri maupun perguruantinggi swasta, kata Wakil Mendiknas Fasli Jalal di sela-sela sidakSeleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri di SMA Negeri 1Bekasi, Jawa Barat, Kamis (17/6).
Menurutnya, tujuan diberikannya block grant kepada perguruantinggi adalah untuk peningkatan mutu sekaligus memacu perguruantinggi menambah kapasitas di masing-masing fakultas.
WAMENDIKNAS: MASIH ADA SISWA BAWA HP KE RUANG UJIAN SNMPTN
Jakarta, 17/6/2010 (Kominfo Newsroom) – Pelaksanaan SeleksiNasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) diduga kuat masihdiwarnai pelanggaran karena masih saja ada peserta SNMPTN yangmembawa hand phone (telepon genggam) ke dalam ruangan ujian.
Masih ditemukan sejumlah pelanggaran, misalnya ada calonmahasiswa yang menggunakan telepon seluler, kata Wakil MenteriPendidikan Nasional Fasli Jalal sewaki melakukan inspeksi mendadak(sidak) dan meninjau pelaksanaan SNMPTN hari kedua di Gedung SMAN 1Bekasi, Jawa Barat, Kamis (17/6).
Masih ditemukan sejumlah pelanggaran, misalnya ada calonmahasiswa yang menggunakan telepon seluler, kata Wakil MenteriPendidikan Nasional Fasli Jalal sewaki melakukan inspeksi mendadak(sidak) dan meninjau pelaksanaan SNMPTN hari kedua di Gedung SMAN 1Bekasi, Jawa Barat, Kamis (17/6).
Kamis, 17 Juni 2010
Lepaskan Tali Penambat Perahu Anda dan Berlayarlah
Hidup kita diibaratkan sebuah perahu, yang terbuat dari kayu terbaik, dilengkapi dengan alat-alat komunikasi yang lengkap, layar yang gagah dan dengan kompas penunjuk arah. Nah, demikian juga diri kita diciptakan dengan sangat baik oleh Allah, dilengkapi dengan bakat, talenta serta kemampuan yang luar biasa oleh Allah dan diberi hati nurani dan akal budi serta kebebasan untuk menjalani perahu kehidupan kita secara baik dan benar. Kesejatian hidup kita adalah berlayar mengarungi samudra, menembus badai, menghalau gelombang dan menemukan pantai harapan kebahagiaan kita dan keselamatan hidup abadi.
Strategi Pengembangan Kelompok Bermain
Strategi Pengembangan Kelompok Bermain
A.Latar Belakang
Pada hakekatnya pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai fungsi pemersatu bangsa,penyamaan kesempatan dan pemgembangan potensi diri.Berdasarkan UU RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ada tiga jalur pendidikan, yaitu pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan in formal. Pendidikan non formal diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Sistem Pendidikan Nasional, khususnya Pendidikan Non Formal diharapkan mampu mendukung terwujudnya tujuan pendidikan yakni meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang diperlukan untuk mengembangkan diri.
A.Latar Belakang
Pada hakekatnya pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai fungsi pemersatu bangsa,penyamaan kesempatan dan pemgembangan potensi diri.Berdasarkan UU RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ada tiga jalur pendidikan, yaitu pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan in formal. Pendidikan non formal diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Sistem Pendidikan Nasional, khususnya Pendidikan Non Formal diharapkan mampu mendukung terwujudnya tujuan pendidikan yakni meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang diperlukan untuk mengembangkan diri.
MODEL PEMBELAJARAN ATRAKTIF PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
MODEL PEMBELAJARAN ATRAKTIF PADA
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
Sasaran utama dalam kerangka sistem dan aktifitas persekolahan di antaranya mempersatukan pendidikan dan kreatifitas peserta didik. Tujuannya untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi yang dimiliki anak didik termasuk potensi memberikan respon kreatif terhadap hal-hal yang ada di sekitar kehidupannya. Ada yang beranggapan bahwa bila daya kreativitas peserta didik rendah, maka secara pedagogis ada yang kurang pas dalam kerangka sistem dan aktivitas persekolahan. Pendidikan selama ini adalah suatu proses belajar mengajar yang rutin dan statis, kalaupun ada perubahan atau perbaikan sifatnya masih sepotong-sepotong dan parsial. Padahal pembaharuan dan perubahan tidak hanya menyangkut didaktik metodik saja, melainkan menyangkut pula aspek-aspek pedagogis, filosofis, input, proses, dan output.. Proses belajar itu dilaksanakan dalam suasana inovatif [innovative Seaming). Suasana belajar yang inovatif dapat memecahkan persoalan-persoalan krisis dalam pendidikan dan membentuk ketahanan anak didik maupun sekolah dalam menghadapi kehidupan serta menjaga harkat martabat manusia supaya tetap berkembang.
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
Sasaran utama dalam kerangka sistem dan aktifitas persekolahan di antaranya mempersatukan pendidikan dan kreatifitas peserta didik. Tujuannya untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi yang dimiliki anak didik termasuk potensi memberikan respon kreatif terhadap hal-hal yang ada di sekitar kehidupannya. Ada yang beranggapan bahwa bila daya kreativitas peserta didik rendah, maka secara pedagogis ada yang kurang pas dalam kerangka sistem dan aktivitas persekolahan. Pendidikan selama ini adalah suatu proses belajar mengajar yang rutin dan statis, kalaupun ada perubahan atau perbaikan sifatnya masih sepotong-sepotong dan parsial. Padahal pembaharuan dan perubahan tidak hanya menyangkut didaktik metodik saja, melainkan menyangkut pula aspek-aspek pedagogis, filosofis, input, proses, dan output.. Proses belajar itu dilaksanakan dalam suasana inovatif [innovative Seaming). Suasana belajar yang inovatif dapat memecahkan persoalan-persoalan krisis dalam pendidikan dan membentuk ketahanan anak didik maupun sekolah dalam menghadapi kehidupan serta menjaga harkat martabat manusia supaya tetap berkembang.
LASKAR PELANGI: SEBUAH POTRET PENDIDIKAN KAUM MARGINAL DI INDONESIA
Pertama kali saya meihat cuplikan film “Laskar Pelangi” di layar kaca beberapa bulan yang lalu, terbersit di benak saya bahwa film Laskar Pelangi merupakan angin segar bagi perfilman Indonesia. Tema yang diusung pun sangat apik, menyentuh dan sangat dekat dengan kehidupan orang-orang yang terpinggirkan atau istilah lainnya adalah kaum marginal. Pikiran dan hati saya semakin melambung ketika di situ digambarkan ada sebuah sekolah yang sangat sederhana, bahkan dapat dibilang sangat memprihatinkan. Sebelumnya saya tidak tahu banyak tentang alur cerita tersebut, hingga pada akhirnya saya menonton sendiri film tersebut dari awal hingga akhir.
Pertama menonton, saya menangkap sebuah kesederhanaan dan keriangan dari anak-anak kecil yang tinggal di pulau. Tempat tersebut jauh dari kemewahan, kebisingan, namun sarat dengan kedamaian. Nuansa pendidikan begitu kental, pelajaran hidup mengalir lewat laku dan dialog para tokoh.
Pertama menonton, saya menangkap sebuah kesederhanaan dan keriangan dari anak-anak kecil yang tinggal di pulau. Tempat tersebut jauh dari kemewahan, kebisingan, namun sarat dengan kedamaian. Nuansa pendidikan begitu kental, pelajaran hidup mengalir lewat laku dan dialog para tokoh.
Pendidikan Kesetaraan Bukan Hanya untuk Kaum Marjinal
JAKARTA, SPIRIT-- Paradigma lama yang menyatakan pendidikan kesetaraan hanya ditujukan kepada kaum marjinal, tidak pernah bersekolah, putus sekolah atau sebagai pilihan terakhir melanjutkan pendidikan harus ditinggalkan karena semua kalangan berhak mendapatkan pendidikan sesuai dengan pilihannya.
"UU Sistem Pendidikan Nasional menyatakan hasil pendidikan non formal, yakni paket A, paket B dan paket C dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk pemerintah dan pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan (SNP), kata Direktur Pendidikan Kesetaraan Ditjen Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Depdiknas, Ella Yulaelawati, di Jakarta, belum lama ini.
Saat ini, ujar Ella, layanan pendidikan kesetaraan banyak diselenggarakan melalui sanggar kegiatan belajar (SKB), Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM), rumah singgah dan sebagainya.
Karena pendidikan kesetaraan sifatnya terbuka, utamanya bagi masyarakat yang belum berkesempatan melanjutkan pendidikannya karena alasan bekerja, menekuni bidang keahlian tertentu maka sejak lima sejak lima tahun terakhir banyak permintaan dari komunitas tertentu seperti atlet, artis, seniman musik, seniman tari, pelukis untuk melakukan pembelajaran mandiri dengan membentuk Sekolah Rumah.
"Pendidikan kesetaraan karena sifatnya terbuka dan mandiri, maka membuka peluang bagi masyarakat untuk memilih waktu yang paling tepat untuk mengelola sendiri kapan mereka akan memulai pembelajaran tanpa harus terikat ruang dan waktu," katanya.
Ella mengatakan, di kota-kota besar sudah muncul kelompok-kelompok masyarakat yang tidak lagi memilih jalur pendidikan formal karena alasan harus menekuni profesi tertentu.
Selain itu, kini banyak pula orang tua dari kalangan menengah ke atas yang kini memilih mendidik secara mandiri anak-anak mereka dengan mendatangkan guru ke rumah dan pada saat ujian akhir mereka mendaftar pada komunitas Sekolah Rumah dan secara kolektif berkoordinasi dengan Direktorat Kesetaraan Ditjen PNFI menyelenggarakan Ujian pendidikan kesetaraan sesuai dengan kelompoknya Paket A, Paket B atau paket C, katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, saat ini komunitas Sekolah Rumah sudah banyak yang mendirikan organisasi sebagai wadah bertukar informasi, menambah referensi dan sebagainya seperti organisasi yang didirikan Seto Mulyadi atau kak Seto yakni Pena Asuh, Global Scope, Dewi Hughes Home Schooling, serta komunitas lain yang dibentuk oleh sejumlah tokoh masyarakat.
Ia mengatakan, pendidikan kesetaraan dilaksanakan dengan tetap mengacu pada standar kompetensi dan standar isi yang sama dengan pendidikan formal dan telah disetujui oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang merupakan mitra pemerintah dalam penyusun dan pelaksana kebijakan pendidikan nasional.
Karena itu, Direktorat Pendidikan Kesetaraan ke depan menginginkan lembaga-lembaga penyelenggaraan program paket A, B dan C dan Sekolah Rumah agar melaksanakan pembelajaran secara fokus sehingga tidak ada keraguan masyarakat untuk menjadikan pendidikan non formal sebagai pilihan mengikuti pendidikan. (republika online)
"UU Sistem Pendidikan Nasional menyatakan hasil pendidikan non formal, yakni paket A, paket B dan paket C dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk pemerintah dan pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan (SNP), kata Direktur Pendidikan Kesetaraan Ditjen Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Depdiknas, Ella Yulaelawati, di Jakarta, belum lama ini.
Saat ini, ujar Ella, layanan pendidikan kesetaraan banyak diselenggarakan melalui sanggar kegiatan belajar (SKB), Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM), rumah singgah dan sebagainya.
Karena pendidikan kesetaraan sifatnya terbuka, utamanya bagi masyarakat yang belum berkesempatan melanjutkan pendidikannya karena alasan bekerja, menekuni bidang keahlian tertentu maka sejak lima sejak lima tahun terakhir banyak permintaan dari komunitas tertentu seperti atlet, artis, seniman musik, seniman tari, pelukis untuk melakukan pembelajaran mandiri dengan membentuk Sekolah Rumah.
"Pendidikan kesetaraan karena sifatnya terbuka dan mandiri, maka membuka peluang bagi masyarakat untuk memilih waktu yang paling tepat untuk mengelola sendiri kapan mereka akan memulai pembelajaran tanpa harus terikat ruang dan waktu," katanya.
Ella mengatakan, di kota-kota besar sudah muncul kelompok-kelompok masyarakat yang tidak lagi memilih jalur pendidikan formal karena alasan harus menekuni profesi tertentu.
Selain itu, kini banyak pula orang tua dari kalangan menengah ke atas yang kini memilih mendidik secara mandiri anak-anak mereka dengan mendatangkan guru ke rumah dan pada saat ujian akhir mereka mendaftar pada komunitas Sekolah Rumah dan secara kolektif berkoordinasi dengan Direktorat Kesetaraan Ditjen PNFI menyelenggarakan Ujian pendidikan kesetaraan sesuai dengan kelompoknya Paket A, Paket B atau paket C, katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, saat ini komunitas Sekolah Rumah sudah banyak yang mendirikan organisasi sebagai wadah bertukar informasi, menambah referensi dan sebagainya seperti organisasi yang didirikan Seto Mulyadi atau kak Seto yakni Pena Asuh, Global Scope, Dewi Hughes Home Schooling, serta komunitas lain yang dibentuk oleh sejumlah tokoh masyarakat.
Ia mengatakan, pendidikan kesetaraan dilaksanakan dengan tetap mengacu pada standar kompetensi dan standar isi yang sama dengan pendidikan formal dan telah disetujui oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang merupakan mitra pemerintah dalam penyusun dan pelaksana kebijakan pendidikan nasional.
Karena itu, Direktorat Pendidikan Kesetaraan ke depan menginginkan lembaga-lembaga penyelenggaraan program paket A, B dan C dan Sekolah Rumah agar melaksanakan pembelajaran secara fokus sehingga tidak ada keraguan masyarakat untuk menjadikan pendidikan non formal sebagai pilihan mengikuti pendidikan. (republika online)
BELAJAR MEMBACA PADA ORANG DEWASA MELALUI PENDIDIKAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL
Jika kebiasaan membaca kurang dibangun, tak jarang orang dewasa yang baru melek aksara pun, tidak tertarik dengan buku dan kegiatan membaca, sehingga mereka kembali menjadi buta aksara. Maka dari itu, tidaklah berlebihan jika pemerintah menyediakan media belajar membaca (yang sudah ada, misalnya: TBM/Taman Bacaan Masyarakat, Mobil Pintar, Perpustakaan Keliling), untuk warga masyarakat yang memiliki antusias terhadap buku dan kegiatan membaca, meskipun mereka bukan dari golongan masyarakat berkelas. Hal tersebut mungkin mendatangkan kontroversi, dengan alasan bahwa karakter dan kebutuhan orang dewasa lebih bersifat praktis dan fungsional serta sesuai dengan kebutuhan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga mereka tidak tertarik pada buku dan kegiatan membaca, jika buku dan kegiatan membaca tersebut tidak bisa difungsikan dalam kehidupan sehari-hari terutama terkait dengan kebutuhan sehari-hari yang pemenuhannya memang tidak mungkin ditunda. Karena karakter orang dewasa seperti tersebut diatas, maka bagi orang dewasa yang masih buta aksara dan orang dewasa yang baru mulai belajar membaca, disediakan wahana untuk belajar membaca melalui program Pendidikan Keaksaraan Fungsional, yang dalam metode pembelajarannya menggunakan pendekatan andragogi, yaitu suatu suatu ilmu dan seni untuk membantu orang dewasa belajar.
Dalam program keaksaraan fungsional perlu menggunakan pendekatan andragogi selain mengingat bahwa orang dewasa punya karakter dan kebutuhan yang bersifat praktis, juga mengingat bahwa terdapat prinsip-prinsip belajar orang dewasa yang harus kita hargai, manakala kita membantu para orang dewasa untuk belajar.
Prinsip-prinsip belajar orang dewasa tersebut adalah:
1. Pembelajaran harus berorientasi pada masalah (problem oriented)
2. Pembelajaran harus berorientasi pada pengalaman peserta didik (experience oriented)
3. Pengalaman belajar harus penuh makna (meaningfull) bagi peserta didik.
4. Peserta didik bebas untuk belajar sesuai dengan pengalamannya
5. Tujuan belajar harus ditentukan dan disetujui oleh peserta didik
6. Peserta didik harus memperoleh umpan balik tentang pencapaian tujuan.
Dengan tidak meninggalkan prinsip-prinsip tersebut diatas dalam membantu para orang deawasa belajar, maka diharapkan pencapaian hasil belajar bisa sesuai dengan apa yang diharapkan penyelenggara pendidikan, pendidik (tutor), maupun peserta didik (warga belajar),
Pembelajaran Keaksaraan Fungsional
Dimyati (2006) menyatakan bahwa pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
Keaksaraan Fungsional merupakan suatu pendekatan atau cara untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca, berhitung, mengamati dan menganalisa yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari serta memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya (Direktorat Dikmas, 1998). Sementara itu, tentang pengertian keaksaraan fungsional, Umberto Sihombing (1999) menyatakan, Keaksaraan Fungsional adalah pengembangan dari program pemberantasan buta huruf yang bertujuan meningkatkan keaksaraan dasar warga masyarakat buta aksara sesuai dengan minat dan kebutuhan hidupnya.
Bertolak dari pengertian-pengertian tersebut diatas, maka pembelajaran keaksaraan fungsional dapat diartikan sebagai proses belajar mengajar untuk mengembangkan kemampuan penyandang buta aksara, fungsional dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca dan berhitung, mengamati dan menganalisa yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari serta memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya sebagai sumber belajar.
Konsep Dasar Belajar Membaca Bagi Orang Dewasa.
Menurut Montessori, membaca adalah bahasa yang ditulis. Membelajarkan membaca pada orang dewasa berbeda dengan membelajarkan membaca pada anak-anak, karena orang dewasa sudah punya sikap hidup, pandangan terhadap nilai-nilai hidup, minat, kebutuhan, ide/gagasan, hasrat-hasrat dan dorongan-dorongan untuk melakukan suatu perbuatan. Orang dewasa juga sudah banyak pengalaman-pengalaman hidup (lebih banyak dari oada anak-anak), dan pengalaman tersebut merupakan sumber yang paling kaya dalam proses belajar orang dewasa.
Pengalaman menunjukkan bahwa membaca paling efektif dimulai dari sesuatu yang bermakna, terdekat dan melekat dengan dirinya, kemudian meluas dan melebar dari tahapan yang satu ke tahapan berikutnya. Sesuatu yang bermakna, terdekat, dan melekat pada diri orang dewasa misalnya “nama diri”. Meskipun mereka buta aksara, tidak mengalami kesulitan untuk melafalkan nama dirinya.
Orang dewasa yang buta aksara juga akan lebih mudah memahami suatu hal apabila itu dapat diterapkannya melalui beberapa panca indera (penglihatan, pendengaran, perasaan dan lain-lain), lebih-lebih apabila dihayati dengan melakukannya sendiri, seperti kata pepatah ”I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand”.
Dari uraian diatas, bisa disimpulkan bahwa membelajarkan membaca pada orang dewasa, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Mulai dari sesuatu yang bermakna bagi dirinya.
2. Hal-hal yang dibaca harus mempunyai arti/makna yang jelas, dan dimulai dari yang terdekat dengan dirinya.
3. Belajar membaca dimulai dari hal-hal yang konkrit dan sudah dikenal.
4. Gunakan kata-kata yang sifatnya repetisi dan sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Metode Pembelajaran Membaca Pada Orang Dewasa Dalam Pendidikan Keaksaran Fungsional.
1. Metode PPB (Pendekatan Pengalaman Berbahasa)
Dalam metode PPB ini bahasa yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah bahasa yang dikenal/dipakai peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara Tutor meminta peserta didik untuk mengucapkan sebuah kalimat. Kalimat tersebut ditulis pada kertas, lalu dibaca bersama-sama. Setelah itu kertas dipotong menjadi kata per kata, tutor membantu peserta didik untuk mengingat kata-kata diatas dengan menggunakan permainan, diantaranya : buka tutup, memindahkan posisi, dsb.
2. Metode SAS (Struktur Analisis Sintesis)
Dalam metode SAS ini, tutor menulis kalimat yang lengkap terdiri dari dari subyek, predikat, obyek dan keterangan (SPOK), lalu
tutor dan peserta didik bersama-sama membaca kalimat tersebut sampai peserta didik memahami arti kalimat tersebut. Kemudian kalimat tersebut diuraikan menjadi kata, suku kata sampai menjadi huruf. Pada tahap ini peserta didik selain memahami arti kalimat dan kata per kata, juga belajar untuk menghafal dan melafalkan huruf-huruf yang membangun kata dan kalimat tersebut.
3. Metode Kata Kunci
Dalam metode kata kunci, kata-kata kunci yang akan dijadikan bahan belajar dipilih dari berbagai alternatif kata yang diajukan oleh para peserta didik, kemudian kata-kata tersebut digunakan untuk memancing pikiran kritis peserta didik, sejak awal kegiatan sampai akhir kegiatan.
4. Metode Suku Kata
Suatu metode yang diawali dengan pengenalan dan pemahaman terhadap suku kata tertentu yang mudah dibentuk, ditulis dan dilafalkan, dan yang paling banyak digunakan dalam pengucapan. Kemudian suku kata tersebut diuraikan menjadi huruf , dan huruf-huruf tersebut dbentuk menjadi suku kata yang baru, sehingga pserta didik memahami betul.
5. Metode Abjad
Dalam metode abjad ini, peeserta didik tidak hanya sekedar mengenal lambang bunyi dari A sampai Z, yang belum tentu bermakna bagi mereka. Akan tetapi peserta didik membuat bahan belajar dengan kata-kata yang dipilihnya sendiri, yang sesuai minat, kebutuhan dan bermakna bagi peserta didik serta sesuai dengan situasi di lingkungan sekitarnya.
Metode ini bisa dilakukan dengan cara peserta didik diminta membuat kata-kata, lalu pada setiap kata tersebut kita tunjukkan abjad apa yang mengawalinya. Misalnya kata Bola, huruf awalnya adalah B, kata sapu, huruf awalnya adalah S, Kartini huruf awalnya adalah K, dan lain-lain.
6. Metode Transliterasi
Dalam metode ini, mengalihkan aksara dan angka dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Mengingat di Indonesia sebagian peserta didik sudah melek aksara dan angka ”Arab”, namun masih buta aksara dan angka ”Latin”, maka dalam kaitan ini yang dimaksud metode tranliterasi ini adalah mengalihkan bentuk aksara dan angka Arab ke bentuk aksara dan angka latin., dengan syarat: memperhatikan kedekatan pelafalan antara kedua aksara yang bersangkutan.
7. Metode Iqra
Metode ini adalah cara belajar secara sistematis dimulai dari hal-hal yang sederhana, meningkat setahap demi setahap (dari huruf menjadi suku kata, dari suku kata menjadi kata dan akhirnya menjadi kalimat). Misalnya:
A BA
A BA BA A BA BA
BA A BA A BA BA BA BA A
TU BA TU TU BA
TA BA TA TA BA
BA TU BA TA
BU AT BU AT
BU AT BA TU BA TA
BU DI
BU DI BU AT BA TU BA TA
Belajar Membaca Dengan Multi Metode
Dalam penerapannya membelajarkan orang dewasa membaca, sebaiknya menggunakan mulitu metode sekaligus, tanpa harus merasa tabu hanya karena teori yang kita peroleh dianggap paling rasional. Dengan kata lain, dalam membantu orang dewasa belajar membaca melalui program pendidikan keaksaraan fungsional, kita bisa memperkenalkan kepada orang dewasa buta aksara tentang semuanya, baik itu huruf, suku kata maupun kata-kata dengan beberapa metode tersebut diatas. Dengan catatan penting, tentu saja penyajiannya sesuai dengan karakter dan kebutuhan orang dewasa, yaitu : (a) Harus selalu ingat bahwa orang dewasa sudah banyak pengalaman hidupnya, (b) Menggunakan pendekatan andragogi, (c) Memanfaatkan pengalaman orang dewasa sebagai bahan belajar, (d) Memnafaatkan potensi yang di sekitar untuk sumber belajar.
Dengan dmikian, para orang dewasa yang belajar tersebut tidak merasa digurui dan merasa diterima apapun adanya mereka. Hal itu jauh lebih berarti dan lebih efektif daripada segudang metode terhebat sekalipun.
Nah, jangan berhenti membelajarkan orang dewasa yang masih buta aksara, mengingat bahwa sebagai manusia sebaiknya memang tidak berhenti belajar. Sehingga akan terwujud masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Semoga..............
Dalam program keaksaraan fungsional perlu menggunakan pendekatan andragogi selain mengingat bahwa orang dewasa punya karakter dan kebutuhan yang bersifat praktis, juga mengingat bahwa terdapat prinsip-prinsip belajar orang dewasa yang harus kita hargai, manakala kita membantu para orang dewasa untuk belajar.
Prinsip-prinsip belajar orang dewasa tersebut adalah:
1. Pembelajaran harus berorientasi pada masalah (problem oriented)
2. Pembelajaran harus berorientasi pada pengalaman peserta didik (experience oriented)
3. Pengalaman belajar harus penuh makna (meaningfull) bagi peserta didik.
4. Peserta didik bebas untuk belajar sesuai dengan pengalamannya
5. Tujuan belajar harus ditentukan dan disetujui oleh peserta didik
6. Peserta didik harus memperoleh umpan balik tentang pencapaian tujuan.
Dengan tidak meninggalkan prinsip-prinsip tersebut diatas dalam membantu para orang deawasa belajar, maka diharapkan pencapaian hasil belajar bisa sesuai dengan apa yang diharapkan penyelenggara pendidikan, pendidik (tutor), maupun peserta didik (warga belajar),
Pembelajaran Keaksaraan Fungsional
Dimyati (2006) menyatakan bahwa pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
Keaksaraan Fungsional merupakan suatu pendekatan atau cara untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca, berhitung, mengamati dan menganalisa yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari serta memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya (Direktorat Dikmas, 1998). Sementara itu, tentang pengertian keaksaraan fungsional, Umberto Sihombing (1999) menyatakan, Keaksaraan Fungsional adalah pengembangan dari program pemberantasan buta huruf yang bertujuan meningkatkan keaksaraan dasar warga masyarakat buta aksara sesuai dengan minat dan kebutuhan hidupnya.
Bertolak dari pengertian-pengertian tersebut diatas, maka pembelajaran keaksaraan fungsional dapat diartikan sebagai proses belajar mengajar untuk mengembangkan kemampuan penyandang buta aksara, fungsional dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca dan berhitung, mengamati dan menganalisa yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari serta memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya sebagai sumber belajar.
Konsep Dasar Belajar Membaca Bagi Orang Dewasa.
Menurut Montessori, membaca adalah bahasa yang ditulis. Membelajarkan membaca pada orang dewasa berbeda dengan membelajarkan membaca pada anak-anak, karena orang dewasa sudah punya sikap hidup, pandangan terhadap nilai-nilai hidup, minat, kebutuhan, ide/gagasan, hasrat-hasrat dan dorongan-dorongan untuk melakukan suatu perbuatan. Orang dewasa juga sudah banyak pengalaman-pengalaman hidup (lebih banyak dari oada anak-anak), dan pengalaman tersebut merupakan sumber yang paling kaya dalam proses belajar orang dewasa.
Pengalaman menunjukkan bahwa membaca paling efektif dimulai dari sesuatu yang bermakna, terdekat dan melekat dengan dirinya, kemudian meluas dan melebar dari tahapan yang satu ke tahapan berikutnya. Sesuatu yang bermakna, terdekat, dan melekat pada diri orang dewasa misalnya “nama diri”. Meskipun mereka buta aksara, tidak mengalami kesulitan untuk melafalkan nama dirinya.
Orang dewasa yang buta aksara juga akan lebih mudah memahami suatu hal apabila itu dapat diterapkannya melalui beberapa panca indera (penglihatan, pendengaran, perasaan dan lain-lain), lebih-lebih apabila dihayati dengan melakukannya sendiri, seperti kata pepatah ”I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand”.
Dari uraian diatas, bisa disimpulkan bahwa membelajarkan membaca pada orang dewasa, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Mulai dari sesuatu yang bermakna bagi dirinya.
2. Hal-hal yang dibaca harus mempunyai arti/makna yang jelas, dan dimulai dari yang terdekat dengan dirinya.
3. Belajar membaca dimulai dari hal-hal yang konkrit dan sudah dikenal.
4. Gunakan kata-kata yang sifatnya repetisi dan sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Metode Pembelajaran Membaca Pada Orang Dewasa Dalam Pendidikan Keaksaran Fungsional.
1. Metode PPB (Pendekatan Pengalaman Berbahasa)
Dalam metode PPB ini bahasa yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah bahasa yang dikenal/dipakai peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara Tutor meminta peserta didik untuk mengucapkan sebuah kalimat. Kalimat tersebut ditulis pada kertas, lalu dibaca bersama-sama. Setelah itu kertas dipotong menjadi kata per kata, tutor membantu peserta didik untuk mengingat kata-kata diatas dengan menggunakan permainan, diantaranya : buka tutup, memindahkan posisi, dsb.
2. Metode SAS (Struktur Analisis Sintesis)
Dalam metode SAS ini, tutor menulis kalimat yang lengkap terdiri dari dari subyek, predikat, obyek dan keterangan (SPOK), lalu
tutor dan peserta didik bersama-sama membaca kalimat tersebut sampai peserta didik memahami arti kalimat tersebut. Kemudian kalimat tersebut diuraikan menjadi kata, suku kata sampai menjadi huruf. Pada tahap ini peserta didik selain memahami arti kalimat dan kata per kata, juga belajar untuk menghafal dan melafalkan huruf-huruf yang membangun kata dan kalimat tersebut.
3. Metode Kata Kunci
Dalam metode kata kunci, kata-kata kunci yang akan dijadikan bahan belajar dipilih dari berbagai alternatif kata yang diajukan oleh para peserta didik, kemudian kata-kata tersebut digunakan untuk memancing pikiran kritis peserta didik, sejak awal kegiatan sampai akhir kegiatan.
4. Metode Suku Kata
Suatu metode yang diawali dengan pengenalan dan pemahaman terhadap suku kata tertentu yang mudah dibentuk, ditulis dan dilafalkan, dan yang paling banyak digunakan dalam pengucapan. Kemudian suku kata tersebut diuraikan menjadi huruf , dan huruf-huruf tersebut dbentuk menjadi suku kata yang baru, sehingga pserta didik memahami betul.
5. Metode Abjad
Dalam metode abjad ini, peeserta didik tidak hanya sekedar mengenal lambang bunyi dari A sampai Z, yang belum tentu bermakna bagi mereka. Akan tetapi peserta didik membuat bahan belajar dengan kata-kata yang dipilihnya sendiri, yang sesuai minat, kebutuhan dan bermakna bagi peserta didik serta sesuai dengan situasi di lingkungan sekitarnya.
Metode ini bisa dilakukan dengan cara peserta didik diminta membuat kata-kata, lalu pada setiap kata tersebut kita tunjukkan abjad apa yang mengawalinya. Misalnya kata Bola, huruf awalnya adalah B, kata sapu, huruf awalnya adalah S, Kartini huruf awalnya adalah K, dan lain-lain.
6. Metode Transliterasi
Dalam metode ini, mengalihkan aksara dan angka dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Mengingat di Indonesia sebagian peserta didik sudah melek aksara dan angka ”Arab”, namun masih buta aksara dan angka ”Latin”, maka dalam kaitan ini yang dimaksud metode tranliterasi ini adalah mengalihkan bentuk aksara dan angka Arab ke bentuk aksara dan angka latin., dengan syarat: memperhatikan kedekatan pelafalan antara kedua aksara yang bersangkutan.
7. Metode Iqra
Metode ini adalah cara belajar secara sistematis dimulai dari hal-hal yang sederhana, meningkat setahap demi setahap (dari huruf menjadi suku kata, dari suku kata menjadi kata dan akhirnya menjadi kalimat). Misalnya:
A BA
A BA BA A BA BA
BA A BA A BA BA BA BA A
TU BA TU TU BA
TA BA TA TA BA
BA TU BA TA
BU AT BU AT
BU AT BA TU BA TA
BU DI
BU DI BU AT BA TU BA TA
Belajar Membaca Dengan Multi Metode
Dalam penerapannya membelajarkan orang dewasa membaca, sebaiknya menggunakan mulitu metode sekaligus, tanpa harus merasa tabu hanya karena teori yang kita peroleh dianggap paling rasional. Dengan kata lain, dalam membantu orang dewasa belajar membaca melalui program pendidikan keaksaraan fungsional, kita bisa memperkenalkan kepada orang dewasa buta aksara tentang semuanya, baik itu huruf, suku kata maupun kata-kata dengan beberapa metode tersebut diatas. Dengan catatan penting, tentu saja penyajiannya sesuai dengan karakter dan kebutuhan orang dewasa, yaitu : (a) Harus selalu ingat bahwa orang dewasa sudah banyak pengalaman hidupnya, (b) Menggunakan pendekatan andragogi, (c) Memanfaatkan pengalaman orang dewasa sebagai bahan belajar, (d) Memnafaatkan potensi yang di sekitar untuk sumber belajar.
Dengan dmikian, para orang dewasa yang belajar tersebut tidak merasa digurui dan merasa diterima apapun adanya mereka. Hal itu jauh lebih berarti dan lebih efektif daripada segudang metode terhebat sekalipun.
Nah, jangan berhenti membelajarkan orang dewasa yang masih buta aksara, mengingat bahwa sebagai manusia sebaiknya memang tidak berhenti belajar. Sehingga akan terwujud masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Semoga..............
Langganan:
Postingan (Atom)
