Headline News :

Selasa, 15 Juni 2010

Kenapa Pendidikan NonFormal Selalu Di Nomor Duakan ?

Semenjak pengangkatan Guru Bantu menjadi CPNS, lantas kemudian diikuti oleh TLD dan FDI maka yang terjadi adalah sebuah kelatahan yang terjadi dengan PTK-PNF lainnya seperti Pendidik PAUD, Tutor bahkan Instruktur Kursus juga menginginkan agar mereka juga diangkat menjadi CPNS.
Bahkan wacana yang berkembana adalah lebih hebat lagi dengan mengatakan bahwa mereka semua pekerjaannya lebih besar daripada pendidik pada pendidikan formal.
Kemudian dengan adanya UU Dosen dan Guru maka kembali ini menjadi sebuah dilema ketika Pendidik pada Pendidikan NonFormal juga meminta agar mereka juga diberikan tunjangan yang sama seperti halnya dengan Guru dan Dosen, yang akhirnya mereka mempertanyakan keseriusan Pemerintah dalam memperhatikan pendidikan nonformal.
Permasalahan ini akhirnya berakibat kepada upaya-upaya untuk memformalkan pendidikan nonformal, karena ketika insentif harus diberikan maka ada beberapa hal yang harus dipatuhi, seperti warga belajar yang jelas, jam mengajar yang jelas, kurikulum yang bisa dipertanggungjawabkan dan masih banyak lagi.
Jadi adalah wajar bila sekarang sepertinya terlihat bahwa pendidikan nonformal diformalkan, hal ini terjadi lebih kepada ketidakpercayaan diri dari PTK-PNF itu sendiri yang seharusnya mereka mendapatkan insentif dari masyarakat langsung, penghargaan dari masyarakat langsung yang kemudian dilegalkan oleh Pemerintah.
Tentunya ini akan menjadi lebih bermakna bagi PTK-PNF daripada mereka sekarang ini seolah-olah sepertinya menjadi, maaf, "Peminta-minta". Yang berujung kepada perubahan-perubahan dari filosofi pendidikan itu sendiri.
So ... What do u think about this brooo ?
Kosasih Ali Abu Bakar

Permasalahan dan Tantangan Besar Dalam Dunia Pendidikan Nonformal

Secara umum permasalahan pendidikan yang sangat mendasar masih berkisar belum tercapainya pemerataan pendidikan yang berakibat banyaknya angka putus sekolah, pengangguran dan kemiskinan di suatu daerah. Memasuki awal abad 21 dunia pendidikan di Indonesia khususnya Pendidikan nonformal Informal menghadapi tiga tantangan besar. Tantangan pertama, sebagai dampak krisis ekonomi , dunia pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan hasil karya pembangunan pendidikan yang telah tercapai.Kedua untuk mengantisipasi era global yang melahirkan gaya hidup (a new life style). Karakteristik gaya hidup tersebut ialah hidup dilandasi penuh dengan persaingan, maka Pendidikan Nonformal Informal harus dapat menciptakan Sumber Daya Manusia yang unggul yang melahirkan The Net-generation atau “N-Gen”(generasi baru).

Menurut Don Tapscott generasi ini hidup dalam dunia digital atau komputer, hidup dalam samudra informasi yang dapat diakses kemana dan dimana saja, singkatnya Pendidikan Nonformal Informal dituntut mempersiapkan generasi baru yang kompeten agar mampu bersaing dalam pasar global. Ketiga dengan berlakunya otonomi daerah , perlu segera dilakukan perubahan dan penyesuaian system pendidikan Nasional sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih keragaman kebutuhan keadaan daerah , demokratis serta mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.

Permasalahan Pendidikan Nonformal secara Umum yang dikatakan oleh DR. Umberto Sihombing dalam buku Pendidikan Luar Sekolah Kini dan Masa Depan , 2001. Bahwa ada permalahan secara kualitatif dalam Pendidikan Nonformal ; Pertama Pendidikan Luar Sekolah/Nonformal belum berhasil meyakinkan warga sasarannya tentang pentingnya pendidikan menjadi kebutuhan mutlak, Kedua, Program Pendidikan Luar Sekolah/nonformal dating dari Pemerintah mengakibatkan masyarakat kurang mandiri. Ketiga Program-program Pendidikan Luar Sekolah/nonformal kurang didukung oleh sarana/prasrana yang tepat dan sesuai karena anggaran terbatas atau kurang menggali potensi atau sumber-sumber yang ada di masyarakat. Keempat Tenaga/sumber daya manusia yang ada cukup memiliki kecakapan yang memadai namun imbalan kurang memadai.

Permasalahan atau Tantantang tersebut di atas, bagi pemerintah daerah merupakan tugas berat yang segera harus disikapi dan ditangani secara terpadu melalui kordinasi dan konsultasi lintas sektoral di daerahnya masing-masing. Karena setiap daerah biasanya memiliki permasalahan berbeda dan berbeda pula teknis pemecahannya.

Jumat, 11 Juni 2010

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Anak

Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan sukses terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat

Dalam rangka Seminar Sehari tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar Anak dan Kurikulum Berbasis Komputensi di Sekolah Dasar

1. Pengaruh Pendidikan dan Pembelajaran Unggul

Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya (Semiawan, C, 1997).Pada kala bayi lahir ia telah dimodali 100 - 200 milyar sel otak dan siap memproseskan beberapa trilyun informasi. Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensi yang berpangaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Ternyata dari berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron otak berfungsi penuh (Clark, 1986).

Lingkungan pendidikan dan berbagai pusat pelatihan serta tempat kerja kita kini juga dipengaruhi oleh lingkungan global yang merupakan berbagai pengaruh eksternal dalam dinamika berbagai aspek kehidupan di dunia, Lingkungan global yang mengadung pengertian tereksposnya kita oleh kehidupan komunitas global menuntut adaptasi masyarakat kita pada kondisi global dan pada gilirannya menuntut adaptasi individu untuk bisa bertahan di masyarakat di mana ia hidup.

Interface antar berbagai stimulus lingkungan melalui interaksi untuk mewujudkan aktualitasasi diri individu secara optimal dalam masyarakat di mana ia hidup dan juga aktualisasi daerah pada masyarakat yang lebih luas, nasional maupun global, inilah yang harus menjadi perhatian pengelola ataupun atasan atas perlakuan subjek SDM, dalam hal kita, para guru dalam perlakuannya terhadap peserta didik. Interaksi yang terjadi dalam prilaku anak-anak kita. Namun secara reciprocal (timbal balik) perlakuan yang diterjadikan adalah cermin kehidupan masyarakat di mana ia hidup.

Menghadapi era global di masa yang akan datang, diharapkan kesadaran tentang reformasi pendidikan memenuhi kondisi masa depan yang dipersyaratkan (necessary condition to be fullfield). Kurun waktu milenium ke 3 dari proses kehidupan manusia sudah berjalan, dan abad ke-21 serta abad ke-22 ini bukan saja merupakan abad-abad baru, melainkan juga peradaban baru. Hal ini dikarenakan betapapun mengalami krisis moneter, Indonesia akan terkena juga oleh restrukturisasi global dunia yang sedang berlangsung. Restrukturisasi dunia, yang terutama ditandai oleh berbagai perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan aspek kehidupan lain, mempengaruhi setiap insan manusia, laki, perempuan, anak di negara berkembang maupun di negara maju, tidak terkecuali negara Indonesia, dan terutama berdampak terhadap orientasi pendidikan.

2. Perkembangan dan Pengukuran Otak

Sebagaimana tadi dikatakan, maka cara penggunaan sistem kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan inteligensi maupun kepribadian dan kualitas kehidupan yang dialami seorang manusia, serta kualitas manusia itu sendiri. Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan memungkinkan akselerasi proses berfikir(Thompsn, Berger, dan Berry, 1980 dalam Clark, 1986). Dengan demikian inteligensi manusia dapat ditingkatkan, meskipun dalam batas-batas tipe inteligensinya.

Secara biokimia neuron-neuron tersebut menjadi lebih kaya dengan memungkinkan berkembangnya pola pikir kompleks. Juga banyak digunakan berkembangnya aktivitas "Prefrontal cortex" otak, sehingga terjadi perencanaan masa depan, berfikir berdasarkan pemahaman dan pengalaman intuitif, Prefrontal cortex yang terutama tumbuh pada ketika anak berumur duabelas sampai enambelas tahun mencakup juga kemampuan melihat perubahan pola ekstrapolasi kecendrungan hari ini ke masa depan; regulasi diri serta strategi "biofeedback" dan meditasi; berfikir sistem analisis;yang merupakan aspek-aspek bentuk tertinggi kreativitas serta memiliki kepekaan sosial, emosional maupun rasional (Goodman, 1978, dalam Clark, 1986). Sifat-sifat manusia ini banyak terkait dengan sifat-sifat inisiatif dan dorongan mencapai kemandirian dan keunggulan.

Otak dewasa manusia tidak lebih dari 1,5 kg, namun otak tersebut adalah pusat berfikir, perilaku serta emosi manusia mencerminkan seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan ingatannya. Descartes pusat kesadaran orang, ibarat saisnya, sedangkan badan manusia adalah kudanya. Meskipun kemudian ternyata, bahwa perilaku manusia juga dipengaruhi oleh ketidaksadarannya (freud dalam Zohar, 2000:39), kesadaran manusia yang oleh Freud disebut rasionya merupakan kemampuan umum yang mengontrol seluruh perilaku manusia. Berbagai penelitian kemudian membuktikan bahwa kemampuan rasional tersebut biasa diukur dengan IQ (Intelligence Quetient). Meskipun kini terbukti bahwa orang memiliki lebih dari satu inteligensi menurut teori Gardner ada 8 (teori Multiple Intelligence), ukuran yang disebut IQ mengukur kemampuan umum yang bersifat tunggal masih sering dipakai untuk menandai kemampuan intelektual dan prestasi belajar. Ternyata bahwa otak tersebut masih menyimpan berbagai kemungkinan lain.

"Celebral Cortex" otak dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut "corpus callosum". Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan belahan otak kiri menguasai belahan kanan badan. Respons, tugas dan fungsi belahan kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan unik. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk merespons terhadap hal yang sifatnya linier, logis, teratur, sedangkan yang kanan untuk mengembangkan kreativitasnya, mengamati keseluruhan secara holistik dan mengembangkan imaginasinya. Dengan demikian ada dua kemungkinan cara berfikir, yaitu cara berfikir logis, linier yang menuntut satu jawaban yang benar dan berfikir imaginatif multidimensional yang memungkinkan lebih dari satu jawaban.

3. Kecerdasan (Inteligensi) Emosional
* Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan suskse terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat (Segal, 1997:14). Pada permulaan tahun sembilan puluhan berbagai penelitian menunjukkan (Segal, 1997:5) bahwa diinspirasi oleh berbagai psikolog humanis seperti Maslow, Rollo May, Carl Rogers yang sangat memperhatikan segi-segi subyektif (perasaan) dalam perkembangan psikolog, eksplorasi tentang emosi telah menunjuk pada sumber-sumber emosi (Segal, 1997, Goleman, 1995).

Ternyata bahwa emosi selain mengandung persaan yang dihayati seseorang, juga mengandung kemampuan mengetahui (Menyadari) tentang perasaan yang dihayati dan kemampuan bertindak terhadap perasaan itu. Bahkan pada hakekatnya emosi itu adalah impuls untuk bertindak.

Goleman menyatakan bahwa selain rational mind, seorang memiliki an emotional main yang masing-masing diukur oleh IQ dan EQ dan bersumber masing-masing dari head dan heart. kedua kehidupan mental tersebut, meskipun berfungsi dengan cara-caranya sendiri, bekerjasama secara sinergis dan harmonis.

* Homo sapiens yang memiliki neocortex(otak depan) yang merupakan sumber rasio, yaitu otak depan, terdiri dari pusat-pusat yang memahami dan mendudukan apa yang diamati oleh alat dria kita. Dalam evolusi tentang pengtahuan kemampuan organisma, ternyata bahwa penanjakan kehidupan manusia dalam peradaban dan kebudayaan adalah kerja neocortex yang ternyata juga menjadi sumber kemampuan seseorang untuk perencanaan dan strategi jangka panjang dalam mempertahankan hidup (Goleman, 1995:11).

Perkembangan ini menjadi otak memiliki nuansa terhadap kehidupan emosional seseorang. Struktur lymbic (sumsum tulang belakang) menghidupkan perasaan tentang kesenangan dan keinginan seksual, yaitu emosi yang mewujudkan sexual passion. Namun keterkaitan sistem lymbic tersebut dengan neocortex menumbuhkan hubungan dasar ibu-anak, yang menjadi landasan untuk unit keluarga dan commitment jangka panjang untuk membesarkan anak (spesi yang tidak dimiliki organisma ini seperti binatang melata, tidak memiliki kasih sayang) dan sering membunuh dan /atau menghancurkan anaknya sendiri. Masa anak dan masa belajar panjang (long childhood) bersumber dari saling keterhubungan neuron-neuron dalam 'pabrik' otak ini.

* Amygdala adalah neuron yang mewujudkan struktur keterhubungan di atas brainstem dekat dasar dari limbic ring(cincin sumsum tulang belakang antara emosi dan rasio). Amygdala adalah tempat penyimpanan memori emosi.

Joseph Le Doux, neoroscientist dari Center for Neural Scince New York University menemukan peran penting amygdala dalam otak emosional. Amygdala menerima input langsung melalui alat dria dan memberikan signal kepada neocortex, namun juga dapat memberikan respons sebelum tercatat di neocortex. Jadi ada kemungkinan respons manusia sebelum ia berfikir.

Mengangkat Bahasa Daerah?

Bahasa daerah, masih fasihkah berbahasa daerah? Kalau di Jawa Timur ada bahasa “ngoko” (o dibaca seperti kata mobil), ada juga kromo inggil. Terakhir kali saya mendapat pendidikan formal mengenai bahasa daerah ketika SMP. Saya pikir bahasa daerah memang patut dilestarikan, hal ini saya sadari ketika sudah beberapa tahun meninggalkan kampung halaman (Blitar, -Red), kalau dulu sewaktu SMP saya suka bahasa karena mudah dan tidak sulit untuk mendapat nilai diatas 80 hehehe.

Menyoal bahasa daerah, bagaimana menurut Kompasianers? Apakah perlu diangkat kembali? Lalu apa manfaat dari pengangkatan bahasa daerah, bukankah sudah ada bahasa satu untuk semua (indonesia)? Saya heran, semasa sekolah saya cukup bangga berbahasa indonesia karena masih cukup sedikit yang menggunakan dialek Indonesia di lingkungan sehari-hari, ya terlihat sedikit lebih keren kalau menggunakan bahasa Indonesia :D, sedangkan sekarang saya malah membiasakan menggunakan bahasa daerah meskipun ditempat dan waktu yang kurang tepat, baik dikantor ataupun di kampus meski saya harus mencari lawan.

Hm…, bahasa daerah…!@#$!@#!!!

Mungkin bahasa yang kuno, ditinggalkan atau mungkin sudah usang? Memang di kampung saya bahasa daerah masih dijadikan bahasa sehari-hari, meski ada beberapa keluarga yang lebih dekat dengan jalan raya sudah mulai terdengar istilah “papa - mama”, hahahaha…., geli sekali rasanya mendengar anak kecil yang memanggil kedua orang tuanya seperti itu dikampung saya, padahal sekitar 4 tahun lalu masih kental dengan “njih, mboten, monggo pinarak” atau “iya, tidak, silahkan mampir” dalam bahasa indonesia. Inikah kemajuan?

Disatu sisi mengikuti perkembangan IPTEK itu memang harus, tapi disisi lain ada budaya luhur yang tidak boleh ditinggalkan karena itulah yang menjadikan beberapa gugusan pulau dan lautan ini disebut sebagai INDONESIA, dan karena itu pula Indonesia sebagai negara yang mempunyai jati diri. Namun rupanya secara perlahan bahasa daerah tidak lagi dipopulerkan, saya sendiri melihat beberapa balita yang sejak kecil telah dikenalkan dan diarah-arahkan agar menggunakan bahasa indonesia. Tidak ada yang salah dengan ajaran seperti, tapi apakah se urgent itu untuk mengajarkan bahasa indonesia ke sikecil? Menurut saya bahasa indonesia lebih mudah dipelajari daripada bahasa daerah, banyak sekali media-media yang dapat dijadikan sebagai “guru bahasa indonesia”. Dan lebih sulit mengajarkan bahasa daerah yang luhur, tentunya by default bahasa daerah menyisipkan nilai-nilai kesantunan.

Reduksi bahasa daerah sangat terpengaruh oleh pesatnya kemajuan teknologi maupun budaya asing yang merangsek masuk. Negara yang tertinggal lebih cenderung mempunyai ketahananan bahasa daerah yang kuat ketimbang negara berkembang. Negara berkembang seperti Indonesia ini masih gemar ikut-ikutan, dan belum dewasa dalam melakukan filter terhadap budaya yang masuk. “Seperti pinokio yang sedang berangkat ke sekolah namun ia lebih memilih bermain”.

Indonesia yang mengalami degradasi budaya juga berdampak pada “mental” dan “moral” masyarakatnya ini tak lepas dari pengaruh budaya negara lain yang mulai menggeser budi luhur warisan nenek moyang. Siapa yang tidak suka kebebasan? Siapa yang suka dibatasi? Sekiranya itu bisa menjadi jawaban meskipun bukan jawaban mutlak, coba kita lihat bahwa setiap warisan budaya yang ada selalu menyertakan paket-paket mengenai etika, etiket, sopan dan santun serta hidup yang penuh keteraturan. Dan ini ditambah lagi dengan orang tua yang enggan menyalurkan warisan luhur kepada putra putrinya. Jika dari Kompasianers sudah memiliki anak atau keluarga, pernahkan sekali-kali mengajak keluarga untuk menyaksikan pagelaran kesenian daerah? Pernahkah mengajarkan dialek bahasa daerah? Atau minimal menanamkan asal usul, bibit dan bebet?

Mungkin saja ketika sang ayah mengajak anaknya pergi ke pagelaran wayang kulit si anak menjawab “hah, hari gini wayang kulit, ke bioskop dong yah…” dan saya hanya bisa bilang weleh…weleh….

Salah siapa ketika nantinya Indonesia tidak menjadi negara yang bhineka tunggal ika tapi menjadi Indonesia negara yang tunggal :D? Bahasa daerah tetap perlu dilestarikan dan diangkat agar Indonesia tidak kehilangan jati diri sebagai negara yang unix (bukan sistem operasi, -Red). Terkadang saya termenung cukup lama, berpikir siapakah dan harus bertanggung jawab dan bagaimana menyikapi hal ini, kira-kira apa yang bisa dilakukan, jika saya adalah pemerintah apa yang harus saya lakukan? Dan jawabannya adalah mensosialisasikan kembali “budaya Indonesia” secara keseluruhan dimulai dari dunia pendidikan, tapi sayang saya bukan pemerintah, dan mungkin hanya individu yang iseng berpikir seperti orang yang “ngerti” budaya padahal tidak. Tapi paling tidak saya mempunyai keinginan agar ketika nanti sudah berkeluarga saya tidak ingin anak-anak saya tidak tahu apa itu wayang kulit, siapa itu Werkudara, Gatotkaca, Srikandhi, apalagi sampai tidak tahu arti dari “njih, mboten, monggo pinarak” hehehe…

Catatan Harian, Catatan Masa Depan

Verba volent, Scripta manent. (Perkataan akan hilang. Tulisan akan dikenang)

Beruntunglah mereka yang memiliki catatan harian. Sebuah tulisan ringan tentang apa yang mereka lakukan. Seharian. Orang yang telah menulis catatan harian, berarti telah menulis sejarah hidupnya sendiri. Kita bisa tahu apa yang telah kita lakukan, apa yang sedang kita lakukan, dan apa yang akan kita lakukan.

Orang yang tak menulis catatan harian akan bingung jika diberi pertanyaan, “Apa saja yang Anda lakukan selama hidup?”. Jika memberi jawaban, biasanya sangat umum. “Saya sudah menjadi direktur”. “Saya sudah menjadi koruptor”. “Saya sudah ini.. iitu…”.

Jawaban over generalist Ini lahir karena mereka tidak memiliki “jejak historis” kehidupan mereka sendiri. Tidak memiliki ‘milestone’. Mereka tidak pernah mau menjadi sejarah. Karena tidak ingin belajar dari sejarah. Zaman sejarah dimulai ketika manusia mengenal tulisan.

Saya tak akan menjelaskan Anne Frank, Soe Hok Gie, atau Ahmad Wahib (orang-orang yang mendorong saya menulis catatan harian), tapi just share kenyataan empiris yang telah saya alami. Menurut saya, menulis catatan harian memiliki tiga manfaat utama:

(1) Reflektif (emotional healing)

Sedang jengkel? Bad mood? BeTe? 4l@y? tulis saja! Apapun perasaan kita. Dengan menulis, kita mengurangi ketegangan emosional yang masih berada dalam pertarungan personal. Fungsinya hampir seperti curhat, tapi ternyata “kertas lebih sabar dari manusia” kata Anna Frank.

“Menuliskan rasa marah, harapan, ketakutan, kecemburuan bisa mencegah anda dari menguburkan emosi anda dalam-dalam, yang menyebabkan emosi itu sulit diraih kembali. Penggunaan huruf besar, tanda seru, atau kata sifat saat menulis buku harian merupakan cara anda berteriak tanpa harus membangunkan tetangga”. (Laurel Schmidt)

Dengan menulis apa yang kita rasakan, kita mencoba memahami perasaan yang kita rasakan. Jika Anda sedang marah, coba tuliskan kemarahan Anda. Kepada siapa, kenapa, dan segala hasrat terpendam Anda. Lalu coba baca lagi! Saya yakin Anda akan merasa lebih baik. Tak jarang saya malah tersenyum-senyum sendiri.

(2) Informative

Fungsi ini saya pergunakan untuk mencatat SEGALA HAL yang menarik. Bisa resume (bukan mesume) buku, artikel majalah playboy, kutipan data BPS, sampai sampul minyak goreng Filma. Apa saja! Catatan harian bagi saya berfungsi seperti kulkas. Kita memasukkan bahan, untuk kemudian digunakan memasak dikemudian hari. (saya percaya menulis itu seperti memasak).

Hampir semua kutipan data/buku dari notes saya berasal dari catatan harian. Ketika menemukan sesuatu yang menarik, saya masukkan saja di kulkas catatan harian. Entah kapan dibutuhkan, setidaknya kita sudah mengawetkan. Tinggal menghangatkan.

(3) Transformative

Saat Erin Gruwell tiba di ruang 203, Woodrow Wilson High School di Long Beach, California. Musim gugur 1994. Dirinya berhadapan dengan “kelas ideal”. Murid nakal, bermasalah, prestasi akademis jeblok, narkoba, perkelahian, sampai catatan rapor criminal.

Apa yang Erin lakukan? MENULIS. Ia meminta setiap muridnya untuk MENULIS. Sebuah diary sederhana yang diisi saat pulang. Bebas. Apa saja. Asal tulis. Hasilnya sungguh mencengangkan. Murid-murid Erin sadar bahwa mereka telah menyia-nyiakan kehidupan mereka sendiri. Mereka mulai menata diri, menghadapi kenyataan, menyongsong masa depan.

Kumpulan tulisan yang dirangkum dalam The freedom writers diary (sudah di-film-kan). Kumpulan tulisan catatan harian ringan yang telah mengubah kepribadian.

Saran: Catat sekarang juga!!!

Apakah kita sudah terlambat untuk memulai menulis catatan harian? TIDAK. Tak ada kata terlambat bagi mereka yang segera berbuat. Mulai saat ini, bawalah notes kecil. Saya kurang prefer mencatat di HP (ribet dan kurang cepet, hp saya bukan smart phone yang bisa corat-coret sambil menggambar peta konsep).

Tulislah ide begitu terlintas dikepala (itulah fungsi notes kecil). Karena saat itu kita saat sedang mengalami “flow”. Suatu keadaan dimana kita memiliki energi tinggi tapi singkat. (Prof Mihaly Sikszentmihalyi, penulis Creativity flow and Psychology of Discovery and Invension).

Saya yakin Anda pernah mengalami perasaan “menggebu”. Saat Anda merasa ada sesuatu yang menggelora di dada dan kepala. Jangan tunda, segera tulis! Karena jika anda kehilangan “flow”, bersiaplah menghadapi keadaan “blank”.

Coba biasakan saat malam, sepulang kerja/kuliah, duduklah sebentar. Tulis APA SAJA yang terliintas dikepala. Baik pengalaman, pengetahuan, atau sekedar gossip-gosip tak penting. Tak lupa notes-notes kecil tadi direkap saat malam/pagi (kebiasaan saya).

Lalu tulis kebaikan apa yang telah kita lakukan, keburukan apa yang tadi kita lakukan, dan kebaikan apa yang INGIN kita lakukan esok hari. Tak lupa saya selalu menulis ‘quotes of the day’ untuk menutup catatan harian.

Bisnis Modal Catatan

Mari meniru seorang pengacara di Amerika Serikat. Seorang businessman bermodalkan “catatan kecil”. Dilacinya ada ‘list investasi’. Setiap terlintas ide, langsung ditulis. Segila apapun ide itu, setidak rasional apa pun itu, sesulit apa pun ide itu, ide tetaplah ide! Sesuatu yang mahal dan susah dicari.

Coretan yang membuatnya menjadi direktur puluhan perusahaan. Bermimpi punya balon udara zeppelin: General Air Service, penerbangan mimpi yang melayani NY dan Chicago. Kata ‘udang’ berarti Witham Brothers Inc. Konsep “emergency fleet corp” bercerita tentang pengangkutan barang di pantai timur dan barat lewat Panama dimasa perang.

Lalu ada gagasan menanam dan memanen 10-15rb hektar pinus. Rencana sederhana menjual space iklan di taksi New York. Tak ketinggalan keingingan membangun “National Resort Inc”, resor di Lake Placid, New York dan Georgia.

Pengacara yang rajin menulis catatan harian kecil itu adalah Franklin Delano Roosevelt, presiden AS yang terpilih 4x!!!!.

Kita adalah apa yang kita tulis.

Pada awalnya kita menulis catatan harian, tapi pada akhirnya catatan harian yang menulis kita!!!

Pelatihan: Penting atau Tidak Penting ?!!

Sebuah organisasi ataupun perusahaan senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan perubahan zaman. Perkembangan ilmu dan teknologi mengharuskan kita selalu aktif untuk membuka mata dan telinga terhadap perubahan yang terjadi. Peralihan zaman dari Information Age menjadi Conceptual Age semakin dekat. Penyelenggaraan pelatihan menjadi salah satu jawaban bagi perusahaan untuk men’charge’kan kembali kinerja karyawan. Mulai dari pelatihan yang berupa teknis hingga pelatihan yang mengedepankan perubahan attitude kerap kali menjadi pilihan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan Sejauh mana pelatihan tersebut dianggap penting atau tidak penting dalam sebuah organisasi/perusahaan, perlu dilakukan atau tidak? Berikut ini dijabarkan beberapa pendapat dari berbagai sumber.

Mengapa pelatihan?

Menurut Ary Ginanjar A, dalam buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ menyebutkan bahwa Globalisasi adalah bukti nyata akan kebutuhan manusaia untuk berinteraksi dan bersinergi dengan kelompok lain di luar kelompoknya. Tidak diragukan bahwa pikiran kelompok dan sinergi akan menghasilkan sebuah pemikiran yang jauh lebih cerdas dan lebih sempurna. Peningkatan kecepatan informasi, ilmu pengetahuan, juga jaringan kerja, membuat kita semakin bergantung pada pemikiran kelompok-kelompok lain dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan pelatihan ketangguhan social (social strength) dalam menghadapi perubahan yang ada.

Hal senada juga disampaikan dalam buku Prof Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikanyang mengatakan bahwa perubahan lingkungan, tentu saja tidak dapat diatasi dengan cara lama, termasuk pengetahuan, teknologi, dan manajeman, serta kepemimpinan. Menghadapi perubahan dan masalah baru tersebut maka setiap organisasi yang ingin bertahan hidup dan ingin berkembang, harus dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan cara-cara atau pendekatan baru.

Dalam buku Ary Ginanjar A, juga ditemukan hasil dari sebuah penelitian yang dilakukan Robert Kelley, dari Carnagie Mellon University di Carnagie Mellon University yang menunjukkan bahwa presentase kebutuhan pengetahuan dalam mengerjakan tugas dari dalam benak sendiri adalah sekitar 75% ditahun 1986 dan terjadi penurunan sekitar 15-20 % pada tahun 1997. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa keberhasilan seorang pekerja/karyawan bukan berdasarkan pengetahuannya saja, tetapi ada aspek lain di luar itu yang lebih penting yaitu EQ dan SQ.

Oleh sebab itu pelatihan merupakan salah satu jawaban dalam menjawab tantangan perubahan zaman tersebut. Teori dan praktek yang selama ini diterima oleh pekerja/ anggota organisasi sebelum ia menjalani pekerjaannya dimasa sekarang bisa jadi sudah usang. Ataupun praktik pekerjaan atau kinerja yang ia lakukan sekarang ini bisa jadi cuma pengulangan dari pola rutinitas yang ia lakukan selama ini. Bangku pendidikan formal yang telah dienyam oleh para pekerja sebelum ia memasuki real world bukan merupakan garansi, bahwa ia akan menjadi kompeten sesuai bidangnya. Seperti yang dikemukakan bapak Ary G.A, kebiasaan menghafal teori selama ini sering dilakukan dengan hanya menggunakan kepala bukan dengan hati. Akibatnya hanya ingat dalam kurun waktu tertentu. Tanpa dipraktikkan, teori terbuang percuma. Setelah diingatkan kembali barulah menyesal.

Lantas seperti apakah pelatihan yang seharusnya ada?

Dalam buku Meningkatkan produktivitas karyawan, Seri Manajemen No.95: yang disunting oleh Bambang Kussriyanto, Keberhasilan pelatihan tergantung pada 3 hal:

* Jalinan rencana keseluruhan yang serasi
* Teknik khusus yang digunakan
* Jangka waktu penyelenggaraan yang tepat

Dalam buku itu juga dikemukakan bahwa idealnya pelatihan dilaksanakan begitu penyelia baru diangkat, hal ini merujuk pada asumsi bahwa selagi mereka masih penuh semangat dan gembira serta sebelum mereka dijangkiti kekhawatiran bahwa mereka tidak mampu melakukan tugas, sehingga lambat laun akan membentuk rasa rendah diri. Akan tetapi kenyataannya seringkali penyelia bekerja terlebih dahulu beberapa waktu, dan baru diberi pelatihan manakala kesulitan dalam bidang tertentu.

Selain itu pelatihan harus dimaksudkan untuk membina bakat-bakat baik disamping untuk mengobati kekurangan. Baik segi-segi yang merupakan kekuatan maupun segi-segi yang merupakan kelemahan harus diperhatikan dan diolah secara seimbang dalam program pelatihan yang diselenggarakan.

Pelatihan kognitif vs pelatihan attitude

Semenjak para pemimpin perusahaan menyadari pentingnya sebuah mentalitas dan attitude, mereka kemudian mengirimkan pada manajernya serta staffnya untuk mengikuti training dengan harapan agar terjadi suatu perubahan mental pada karyawannya. Meski terkadang hasilnya memang terlihat cuma beberapa saat. Pemikiran tentang pealtihan yang berdasarkan pada nilai kognitif semata telah beranjak menjadi pelatihan mental.

Orientasi bisnis seharusnya menggunakan pondasi pada optimalisasi spiritual capital bukan material capital. Yang dibenarkan oleh ahli psikologi, Victor Frankl, yang mengetakan bahwa mereka yang mampu mamaknai setiap aktivitasnya, memiliki kekuatan unutk bertahan hidup di dunia fana ini. Lebih lanjut Kouzes, dan Postner (Leadership Challenge, 2002) mengatakan bahwa sumber komitmen yang tinggi bukanlah pada kokohnyacore values perusahaan, tetapi lebih kepada personel values (nilai-nilai pribadi karyawan) yang kokoh. Karena nilai pribadi itu yang tercermin dalam praktik bekerja dan komitmen bekerja bukan nilai perusahaan. Nilai individu yang dianut memgang kendali utama. (Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ)

Oleh sebab itu tidaklah pelatihan karyawan sebuah perusahaan cukup dengan pelatihan kognitif saja, tetapi juga aspek SQ dan EQ-nya yang mengacu pada perubahan mental dan attitude karyawan..

Pelatihan yang berkontinu (terus-menerus)

Peter Drucker menunjukkan bahwa justru dengan pelatihan yang terus-meneruslah orang Jepang membuat pekerja makin besar rasa tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya dan alat-alat yang digunakan. Pelatihan membuat pekerja mengerti akan prestasinya, prestasi bawahannya, prestasi teman sejawatnya, prestasi perusahaannya, dan berusaha untuk meningkatkan prestasi2 itu. Pelatihan menciptakan komunitas kerja dan pekerja. (Kussriyanto, Bambang. Seri Manajemen No.95: Meningkatkan produktivitas karyawan)

Terlalu sering dampak nyata sebuah pelatihan, apapun jenisnya adalah mereka hanya mendapat energi baru. Manfaat training memang sangat dirasakan seperti: memahami arti penting berpikir positif, proaktif, orientasi pada tujuan, empati, komitmen, atau sinergi. Akan tetapi setelah 3 bulan, biasanya peserta sudah lupa untuk mempraktikkan konsep pada buku tersebut. Yang tersisa tinggallah slogan-slogan seperti: you can if you think you can, think globally act locally, there is a way there is a will, dst, Sesudah itu para peserta pelatihan kembali pada kebiasaan lama mereka sebelum pelatihan. (Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ),

Karenanya kontinuitas dalam pelatihan sangat menentukan hasil akhir peningkatan performance para pekerja, sebab selayakanya sifat dasar manusia pada umumnya yaitu cepat lupa.

Dampak pelatihan

Dampak yang paling umum dari sebuah sebuah pelatihan adalah meningkatnya rasa percaya diri peserta, setidaknya untuk sementara waktu. (Ginanjar, Ary. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, mengutip dari Richard Boyatzis, Consequences of Rejuvenation as Competency-Based Human Resources and Organisation Development, Research in Organizational Change and Development IX, 1993)

Sebuah training yang diikuti pesertanya dengan dilandasi kesadaran dirinya yang kuat, yang sesuai dengan suara hatinya maka ia akan menjadi jawaban dari metode pembentukan karakter (mental building). Selain itu terus berkelanjutan dan bisa dilaksanakan sepanjang waktu, sehingga meghasilkan peningkatan ESQ secara berkesinambungan dan berkelanjutan seumur hidup. Selain itu hendaknya sebuah training mengahsilkaninternalisasi karakter, yang tentu saja harus dilakukan secara kontinu. Bila tidak secara kontinu, manfaat training yang begitu hebat terasa singkat

Berikut ini Ilmu pembentukan mental dan attitude (EQ) yang dikemukakan Ary Ginanjar Agustian bahwasanya:

Pemahaman à pelatihanà kebiasaanàkarakteràkeberhasilan

Beberapa contoh pelatihan ESQ*

1. Pelatihan penjernihan emosi melalui wudhu,

Membasuh wajah àpenjernihan dan penyucian hati serta pikiran

Membasuh tangan à penyucian segala kegiatan

Membasuh kepala à pikiran yang suci

Membasuh kaki à langkah lurus nan bersih

2. Doa iftitah

Secara berulang-ulang menyatakan tentang kesucian Allah. Hal ini akan mendoktrin jiwa seseorang untuk selalu mengikuti teladannya yaitu Allah Yang Maha Suci. Hasil akhir yang diharapkan adalah sebuah fitrah atau hati bersih yang sangat cerdas.

3. Rukuk dan sujud

Rukuk—pujian dan keinginan

Memuji artinya menjunjung, dan orang yang menjunjung akan menempatkan sesuatu hal pada tempat yang tinggi.Menghasilkan pemikiran yang selalu menjunjung tinggi kesucianatau kejernihan hati, pikiran, dan tindakan yang bebas dari berbagai belenggu.Selanjutnya ia kan menyakini bahwa kejernihan hati dan tindakan akan membimbing seseorang pada keagungan

* (sumber: buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ : emotional spiritual quotient berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam)

Kesimpulan

Pelatihan dalam sebuah organisasi/perusahaan sangatlah penting sejalan dengan budaya organisasi, pembentukan mental karyawan dan peningkatan kinerja sesuai dengan perkembangan zaman. Pelatihan yang diselenggarakan hendaknya tidak menekankan aspek kognitif saja, tetapi juga aspek attitude yang tercermin dalam penerapan EQ dan SQ.

Selain itu pelatihan yang baik hendaknya memperhatikan kontinuitas dari pelatihan tersebut, sesuai dengan filosofi long life education yang berpijak pada pendidikan orang dewasa, sehingga manfaat dari pelatihan tersebut tidak hanya dirasakan dalam beberapa waktu saja kemudian hilang seketika, tetapi tetap tertanam dalam budaya organisasi. Jangan sampai tagline salah satu iklan “ sudah lupa tuh..” menghiasai karyawan-karyawan yang rajin ikut pelatihan.

Daftar Pustaka

Miarso, Yusufhadi.Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.

Kussriyanto, Bambang. Seri Manajemen No.95: Meningkatkan produktivitas karyawan. LPPM bekerjasma dengan PT Pustaka Binaman Pressindo.

Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ : emotional spiritual quotient berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam. Penerbit Arga.

Pandangan Baru Mendidik Anak

Dalam mendidik anak selama 7 tahun ini tentu banyak teori-teori yang saya terima mengenai pendidikan anak khususnya pendidikan di rumah (orangtua). Secara general, ada 2 aliran dalam mendidik anak. Pertama cara konvensional yang menjunjung tinggi kedisiplinan dan aturan. Kedua cara baru yang sekarang menjadi tren yaitu memberi kebebasan penuh ke anak. Cara kedua ini bisa dibilang menguasai kebanyakan seminar soal anak dalam satu dekade terakhir.

Cara kedua adalah cara revolusioner yang memang menggebrak cara lama yang selama ini dipakai oleh orangtua kita. Namun tentu saja cara ini tidak sepenuhnya disetujui terutama oleh golongan terdahulu. Selain itu cara kedua ini juga belum terbukti karena hasil dari generasi ini baru bisa kita lihat mungkin 20 tahun ke depan.

Tapi, bagaimanapun cara kedua ini adalah cara yang banyak digemari oleh orangtua sekarang ini karena dianggap sesuai dengan perkembangan jaman. Lalu bagaimana dengan Anda? Cara mana yang akan Anda pakai untuk “membentuk” anak Anda?

Identifikasi Diri

Bagi saya, mendidik anak tidak bisa kita samaratakan. Setiap anak mempunyai karakter bawaan yang tentu tidak bisa kita lupakan ketika mendidiknya. Untuk itulah, saya lebih suka mendidik anak dengan didahului dengan yang disebut “identifikasi diri” anak. Baru setelah itu kita akan tahu mana cara yang kita gunakan apakah itu cara konvensional atau cara baru.

Identifikasi diri pada dasarnya adalah mengenali anak dengan lebih dalam. Kita harus tahu betul lokasi karakter anak sebelum memberikan pengaruh kepada anak. Misalnya, dalam skala sangat pemalu sampai sangat sombong, di manakah titik karakter anak kita. Atau dalam skala sangat sangat pemaaf sampai sangat pemarah, di mana posisi anak kita. Dalam skala sangat pendiam sampai sangat jago membantah, di mana posisi anak kita.

Anda bisa menambahkan karakter-karakter lain selain yang saya tulis di sini. Namun pada intinya tujuan kita adalah mengenali dengan baik anak kita.

Penerapan

Jika kita sudah mengenali anak kita, kita bisa menentukan metode yang akan kita pakai untuk anak kita. Misalnya, anak kita termasuk anak yang sangat pemalu, maka akan lebih baik jika kita gunakan cara kedua yaitu cara yang membebaskan anak kita untuk bereksplorasi. Dalam teori yang banyak berkembang, kita jangan sampai membatasi ketika dia akan melakukan sesuatu.

Namun seandainya anak kita terlalu pede (percaya diri) sehingga masuk kategori sombong, rasanya kita harus menerapkan cara pertama (konvensional) untuk mengendalikan potensi berlebih anak kita. Sombong bukan sesuatu yang baik untuk dikembangkan. Kendalikan… Dan cara konvensional menurut saya lebih tepat untuk kasus seperti ini.

Dan seandainya anak kita berada di titik tengah dari garis karakter yang kita buat, ya berarti kita harus menggunakan 2 metode dengan seimbang. Logika aturan konvensional dan juga logika baru harus kita gunakan bersama-sama.

Jangan sampai kita terjebak oleh salah satu metode yang akhirnya membuat anak kita menjadi tidak seimbang. Kita ingin anak kita menjadi anak pede, tapi jangan sampai kita menjadikan anak kita anak yang sombong. Kita ingin anak kita menjadi anak yang sabar, tapi jangan sampai membuat anak kita menjadi anak yang tidak berdaya menghadapi tekanan.

Gunakanlah selalu keseimbangan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi diri anak kita.

Sudahkah Kita?

Proses identifikasi diri adalah mutlak kita lakukan untuk mengenali anak kita. Namun sayang, seringkali diskusi seperti ini agak sulit dilaksanakan. Jangankan mengidentifikasi diri anak, sedangkan identifikasi diri orangtua sendiri biasanya belum dilaksanakan. Kebanyakan orangtua juga belum sadar betul bagaimana sifat diri mereka sendiri.

Kita juga perlu tahu bahwa identifikasi diri kita sendiri sangatlah penting. Kita harus mengenali diri kita sendiri. Dengan begitu kita tahu bagaimana harus berbuat dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, apakah kita peduli dengan apa yang dirasakan orang lain terhadap tingkah laku kita?

sumber : hasyimmah.wordpress.com

Tak Perlu Malu, Walau Dinasehati Seorang Anak Kecil!

Dari anak-anak, khususnya si kecil di rumah, teryata banyak hal yang bisa saya pelajari. Karena sebagai anak, tak jarang ia menasehati dengan kata-katanya sama seperti orang dewasa. Dalam hal ini justru saya merasakan kesejukkan ketika mendengar apa yang dikatakan si dede. Karena selalu selalu terbuka untuk mendapatkan pengajaran dari siapa saja dalam hal kebaikan.

suatu hari tanpa sengaja..dan mungkin tidak memperhatikan atau sudah menjadi kebiasaan sehari-hari Ketika setelah mengambil sesuatu dari kulkas _ kulkas kecil yang hanya setinggi dengkul_ saya menutupnya dengan menggunakan kaki dengan santainya. Tanpa risih dan perasaan apa-apa.

Tetapi pada saat itu ada ada si kecil yang melihat dan langsung menyeletuk dengan serius bak kakek-kakek , “Papiiiii…kalau tutup pintu nya jangan pakai kaki dong! Kalau itu namanya gak sopan, tau!!!

Antara kaget dan bingung juga pada saat, anak sekecil itu bisa berkata demikian, mungkin kalau pada waktu itu tidak sadar, sebagai orang tua pasti memarahi anaknya, karena merasa digurui. Namun pada saat itu saya sadar seketika dan merasa malu sendiri, kemudian saya langsung memeluknya dan mengucapkan terimakasih, karena telah mengajari untuk lebih bersikap sopan walaupun tak ada yang memperhatikan.

Pada saat saya hendak berangkat keluar kota setelah berlibur dirumah, maka si dede seringkali dengan mimik yang sedikit memelas dan serius, akan berkata, ” Papi, hati-hati dijalan. Jangan lupa jaga kesehatan dan jangan banyak pikiran!”

Walaupun hanya sepotong kata sederhana, tapi sudah cukup mengingatkan dan menguatkan. Tak jarang pula diselingi kata-kata yang sepertinya wajib didengar seorang lelaki yang kerjanya jauh dari istri, “Papi, kan kerjanya jauh, papi jangan selingkuh ya… Jangan punya pacar lagi?!”

Loh, kok tahu selingkuh segala? Pasti diajari si mami! Namun tak masalah, bagi saya ini adalah bentuk perhatian dari seorang anak yang selalu menyayangi orangtuanya.

Dilain waktu juga, apabila saya berbicara terlalu keras padanya, maka akan segera keluar kata-kata, “Papi, kalau ngomong itu jangan keras-keras, itu tandanya marah. Jadi orang jangan suka-suka marah-marah!”

Bila sudah demikian, mau marah benaran pun tak jadi lagi.

Dalam hidup ini, bila mau belajar tentang makna kehidupan, pengajaran itu bisa datang dari siapa saja. Tergantung mau tidaknya kita memetik hikmahnya.
Apakah mau menganggap itu sebagai pengajaran adalah hal yang terpenting. Yang dibutuhkan, hanyalah sebuah kerendahan hati untuk belajar !

Bila sudah ada kerendahan , maka tidak perlu lagi malu untuk mendapatkan pengajaran dari siapapun. Walausekalipun itu dari seorang anak kecil.

Akan tetapi yang terpenting adalah sesungguhnya bahwa kita tidak boleh mengangap hal-hal yang sepele dan sederhana dalam membina kehidupan ini. Sebab seringkali kebenaran itu ada dalam hal-hal yang sederhana disekitar kita.Jadi, janganlah menyepelehkan hal-hal yang kelihatan kecil dan tak berarti.

Karena dalam hidup ini banyak hal yang berarti dalam sesuatu hal yang kecil dan sepele. Jadi , jangan sesekali menyepelekannya.

Salam belajar dari kehidupan dari sekitar kita

sumber : jongos18.wordpress.com

Bimbingan Belajar dan Bisnis Pendidikan

Tumbuhnya berbagai bimbingan belajar menjadi satu fenomena menarik dan menjadi catatan tersendiri bagi dunia pendidikan di Indonesia. Ketidakpuasan terhadap kondisi pembelajaran di sekolah diyakini sebagai salah satu penyebab tumbuh suburnya berbagai bimbingan belajar tersebut.

Sekolah yang memiliki otoritas sebagai tempat untuk menyelenggarakan pendidikan sering dipertanyakan perannya. Hal ini adalah salah satu masalah yang ada dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Sebagai alternatif belajar di luar sekolah banyak siswa yang menggantungkan harapannya pada bimbingan belajar untuk mendapatkan materi yang tidak diajarkan di sekolah. Dengan adanya proses penerimaan di PTN melalui ujian tertulis semakin menambah daya tarik siswa terhadap bimbingan belajar.

Seiring dengan itu banyak bermunculan bimbingan belajar untuk merespon tantangan ini. Namun, kenyataannya kondisi ini tidak diiringi dengan kesungguhan penyelenggara bimbingan belajar dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Bimbingan Belajar sebagai Alternatif Belajar di Luar Sekolah

Dalam upaya untuk ikut mendukung program pemerintah yaitu ikut mencerdaskan kehidupan bangsa ada sebagian orang mewujudkannya dengan mendirikan bimbingan belajar. Banyak siswa dengan antusias mengikuti bimbingan belajar terutama bagi mereka yang ingin mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri.

Pada kenyataannya belajar di bimbingan belajar tidak sekedar berupa materi pelajaran semata. Tetapi, juga disampaikan tentang kiat-kiat belajar yang efektif, kiat-kiat belajar di perguruan tinggi, maupun informasi seputar perguruan tinggi.

Pada awalnya bimbingan belajar dibentuk untuk membantu siswa SMA yang baru lulus dalam menghadapi ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Persaingan ketat untuk mendapatkan tempat di perguruan tinggi negeri memaksa para siswa untuk mempersiapkan diri secara ekstra.

Pada masa itu perguruan tinggi negeri menjadi pilihan terbaik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena belum banyak pilihan perguruan tinggi lain dan biaya pendidikan yang relatif lebih terjangkau.

Keterbatasan sistem yang berlaku di sekolah juga ikut memicu tumbuhnya berbagai bimbingan belajar. Kemampuan guru yang terbatas, kurangnya fasilitas belajar yang memadai, serta tuntutan kurikulum yang tidak realistis menyebabkan siswa mencari alternatif lain untuk belajar di luar sekolah. Sekolah juga dianggap tidak mampu menyediakan semua kebutuhan yang diperlukan siswa terlebih lagi kesiapan untuk berebut kursi di PTN yang diidam-idamkan.

Peluang ini yang dilihat oleh pengelola bimbel yang kemudian direspon dengan mendirikan Bimbingan Belajar. Dari segi bisnis hal ini memang terlihat sangat menjanjikan dan menggiurkan. Selain itu segi bisnis ada pula bimbel yang didirikan dengan faktor ideologis dengan keinginan untuk mendekatkan dakwah dengan pelajar.

Salah satu tolok ukur keberhasilan suatu bimbingan belajar adalah jumlah siswa yang berhasil lulus ke perguruan tinggi negeri. Namun, hasil yang telah dicapai ini masih menyisakan pertanyaan. Seberapa besar peran bimbel membantu siswa lulus dalam SPMB. Ini bisa dilihat dari jumlah siswa yang telah ikut mulai dari program reguler yang lulus dibanding siswa yang hanya ikut di program intensif.

Menjadikan banyaknya siswa yang lolos ke PTN sebagai tolok ukur keberhasilan suatu bimbingan belajar adalah sesuatu masih perlu dipertanyakan. Bimbingan belajar tidak sepenuhnya berhak mengklaim sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kelulusan siswa ke PTN.

Hal ini tampak dari kehadiran siswa di kelas bimbingan belajar yang tidak menentu. Selain itu perlu dilihat juga apakah mereka yang lulus merupakan siswa yang ikut semenjak program regular atau hanya ikut di program intensif saja.

Kalau tolok ukur keberhasilan dilihat dari banyaknya siswa yang lolos ke PTN saja mengapa bimbingan belajar tidak fokus dengan menyelenggarakan program persiapan masuk PTN (program intensif) saja sehingga lebih kelihatan hasilnya. Jadi penyelenggara bimbingan belajar tidak dapat menggunakan keberhasilan siswa masuk ke PTN sebagai ukuran efektivitas belajar di bimbingan belajar tersebut.

Dalam hal bimbel yang berlatar belakang ideologi tidak dapat dipungkir bahwa faktor ideologi menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan bimbel tersebut. Jaringan yang terbangun melalui rohis sangat penting khususnya di masa awal berdirinya bimbel tersebut untuk memperkuat posisinya.

Namun, pada akhirnya kekuatan jaringan itu tidak cukup memadai untuk menopang bimbel tanpa adanya profesionalisme dan pembinaan sumber daya manusia yang kuat di bimbel. Selain itu, kekuatan jaringan justru dapat menjadi bumerang buat bimbel karena bimbel tidak dapat melihat secara riil posisi bimbel yang sebenarnya di mata konsumen dalam hal ini siswa.

Konsumen yang terbentuk melalui jaringan tidak dapat menilai secara objektif terhadap bimbel. Jadi, apakah bimbel tersebut memang benar-benar bimbingan belajar yang layak diikuti (dan perlu) masih menjadi pertanyaan besar.

Merupakan suatu hal yang menggembirakan bila melihat perkembangan bimbel yang amat pesat dan menjelma menjadi bisnis yang berkembang di Indonesia. Namun, pencapaian ini akan menjadi sia-sia apabila tidak disertai dengan evaluasi dan cara pandang yang baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.

oleh : http://bayureason.blogspot.com http://aktifisika.wordpress.com

Manfaat dan Kekuatan Dongeng pada Psikologi Anak

Pada zaman serba canggih seperti sekarang, kegiatan mendongeng di mata anak-anak tidak populer lagi. Sejak bangun hingga menjelang tidur, mereka dihadapkan pada televisi yang menyajikan beragam acara, mulai dari film kartun, kuis, hingga sinetron yang acapkali bukan tontonan yang pas untuk anak. Kalaupun mereka bosan dengan acara yang disajikan, mereka dapat pindah pada permainan lain seperti videogame.

KENDATI demikian, kegiatan mendongeng sebetulnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Para pakar menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.

Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.

Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seprti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut karena Kak Agam di sini tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.

Ketiga, dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan Kak Agam, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

Tidak ada batasan usia yang ketat mengenai kapan sebaiknya anak dapat mulai diberi dongeng oleh Kak agam. Untuk anak-anak usia prasekolah, dongeng dapat membantu mengembangkan kosa kata. Hanya saja cerita yang dipilihkan tentu saja yang sederhana dan kerap ditemui anak sehari-hari. Misalnya dongeng-dongeng tentang binatang. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar dapat dipilihkan cerita yang mengandung teladan, nilai dan pesan moral serta problem solving. Harapannya nilai dan pesan tersebut kemudian dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan suatu dongeng tidak saja ditentukan oleh daya rangsang imajinatifnya, tapi juga kesadaran dan kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik. Untuk itu Kak Agam dapat menggunakan berbagai alat bantu seperti boneka atau berbagai buku cerita sebagai sumber yang dapat dibaca oleh orang tua sebelum mendongeng.

Manfaat Dongeng untuk anak :

1. Mengasah daya pikir dan imajinasi
2. Menanamkan berbagi nilai dan etika
3. Menumbuhkan minat baca

Kekuatan Dongeng pada Anak

Kak Bimo, seorang pecinta anak-anak, guru, trainer, sekaligus pendongeng yang sangat fasih dan piawai. Di kotanya Yogyakarta penulis mengenalnya tak hanya lantaran kemampuannya menyihir anak-anak dengan dramatis, namun juga karena muatan pesan moral yang dalam serta komprehensif mampu diselipkan dengan sangat apik dan tak membebani. Anak-anak demikian terbius segenap perhatian dan pikirannya pada alur cerita sederhana namun enak diikuti selama dongeng berlangsung. Kemudian kita mungkin mengenal PM Toh, pendongeng asal Aceh yang selalu mementingkan interaksi serta suasana yang aman dan nyaman bagi anak-anak yang mendengarkannya. Selain itu tak asing bagi kita yakni Kusumo Priyono, maestro dongeng Indonesia yang berpendapat bahwa dalam mendongeng biasanya ada sesuatu yang ingin disampaikan, terutama moral dan budi pekerti. Selain itu, yang tak kalah penting adalah sarat nuansa hiburan bagi anak-anak (edukatif dan kreatif) sehingga anak merasa senang dan terhibur. Demikianlah, anak-anak memang sangat senang mendengarkan cerita atau dongeng. Terutama cerita yang dibacakan oleh orang tua atau orang dewasa.

Menimbang Manfaat Dongeng

Tak bisa disangkal bahwa dongeng memang memiliki daya tarik tersendiri. Di sebagian sisi, terjadi suatu fenomena klise, bahwa anak-anak sebelum tidur kerap minta mendengar dongeng yang dikisahkan oleh ibu, nenek, atau orang dewasa yang berusaha menidurkannya. Meski bisa saja ditafsirkan bahwa dongeng tak selamanya menyenangkan, namun kenyataannya memang dongeng mudah membuat anak tertidur, disamping dongeng disetujui sebagai aktifitas rileks memang memiliki potensi konstruktif untuk mendukung pertumbuhkembangan mental anak. Bercerita atau mendongeng dalam bahasa Inggris disebut storytelling, memiliki banyak manfaat. Manfaat tersebut diantaranya adalah mampu mengembangkan daya pikir dan imajinasi anak, mengembangkan kemampuan berbicara anak, mengembangkan daya sosialisasi anak dan yang terutama adalah sarana komunikasi anak dengan orang tuanya. (Media Indonesia, 2006). Kalangan ahli psikologi menyarankan agar orangtua membiasakan mendongeng untuk mengurangi pengaruh buruk alat permainan modern. Hal itu dipentingkan mengingat interaksi langsung antara anak balita dengan orangtuanya dengan mendongeng sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak menjelang dewasa.

Selain itu, dari berbagai cara untuk mendidik anak, dongeng merupakan cara yang tak kalah ampuh dan efektif untuk memberikan human touch atau sentuhan manusiawi dan sportifitas bagi anak. Melalui dongeng pula jelajah cakrawala pemikiran anak akan menjadi lebih baik, lebih kritis, dan cerdas. Anak juga bisa memahami hal mana yang perlu ditiru dan yang tidak boleh ditiru. Hal ini akan membantu mereka dalam mengidentifikasikan diri dengan lingkungan sekitar disamping memudahkan mereka menilai dan memposisikan diri di tengah-tengah orang lain. Sebaliknya, anak yang kurang imajinasi bisa berakibat pada pergaulan yang kurang, sulit bersosialisasi atau beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Namun terlepas dari setumpuk teori manfaat tersebut, rasanya kita tetap harus berhati-hati. Karena jika kita kurang teliti, cukup banyak dongeng mengandung kisah yang justru rawan menjadi teladan buruk bagi anak-anak. Sebut saja dongeng rakyat tentang Sangkuriang yang secara eksplisit mengisahkan bahwa ibu kandung Sang-kuriang gara-gara bersumpah akan menjadi istri pihak yang mengambil peralatan tenun yang jatuh terpaksa menikah dengan seekor anjing. Tak cukup itu kondisi diperparah oleh kisah bahwa setelah membunuh sang anjing yang notabene adalah ayah kandungnya sendiri Sangkuriang sempat jatuh cinta dalam makna asmara kepada Dayang Sumbi, ibu kandungnya sendiri. Belum terhitung kelicikan Dayang Sumbi membangunkan ayam jago agar berkokok sebelum saat fajar benar-benar tiba, demi mengecoh Sangkuriang agar menduga dirinya gagal memenuhi permintaan Dayang Sumbi yakni merampungkan pembuatan perahu dalam satu malam saja. Karena muatan-muatan pada cerita dongeng harus dipertimbangkan dengan kondisi psikologi yang mungkin deserap oleh sang anak, jangan sampai terjadi kesalahan pemahaman dari dongeng yang dimaksudkan positif malah menjadi negatif.
http://episentrum.com

Ketika Bahasa Daerah Terdengar Asing di Telinga

Praktisi pendidikan bahasa Sutjahjo Gani mengemukakan, saat ini banyak kosakata Jawa yang sudah terdengar asing di telinga, terutama generasi muda.

Beberapa contoh kosakata Jawa tersebut, antara lain, "edhum" yang maknanya merupakan teduh, "lalis" yang artinya mati, juga "wirang" yang artinya malu.

"Saat ini, banyak generasi muda yang merasa asing dengan bahasa daerahnya (Jawa). Bahkan, mereka ada yang tidak tahu," kata Sutjahjo mengungkapkan.

Ia merasa menyesal dengan kejadian itu. Sebagai seorang warga Jawa, ia berharap dapat melestarikan budaya daerah, termasuk dari sisi bahasa. Bahkan, kata dia, saat ini masyarakat Indonesia lebih senang menggunakan bahasa asing yang dicampur dengan bahasa nasional, padahal itu tidak selayaknya.

"Saat ini, banyak pejabat maupun tokoh penting yang justru senang untuk mencampur bahasa, seperti Indonesia dengan asing, yang jika digabungkan menjadi lucu," ucapnya sambil terbahak.

Dengan kondisi tersebut, ia menilai, saat ini keberaadaan Bahasa baik Indonesia, Jawa, sudah terpengaruh kebudayaan global, dan sudah mulai terjadi pergeseran.

Ia mencontohkan, beberapa halaman untuk iklan, banyak yang tertulis kalimat "space for rent", padahal bisa diganti menjadi Bahasa Indonesia "halaman untuk dijual".

"Kalau saya melihatnya, saat ini sudah mulai ada penjajahan secara kapitalisme dalam bidang bahasa. Yang pertama adalah bahasa nasional, namun imbasnya kepada bahasa daerah," kata dosen dari Universitas Nusantara PGRI Kediri tersebut.

Bahkan, kata dia, saat ini keberadaan bahasa daerah, seperti Jawa, juga sudah mulai ada pergeseran, dari semula mayor menjadi minor. Selain pengaruh orang tua yang tidak membiasakan mengenal bahasa daerah kepada anaknya, juga guru pengajar yang tidak menguasai materi.

Hal itu, kata dia, berdampak sangat besar. Beberapa contohnya, seperti pelajaran Bahasa Jawa, seharusnya dikenalkan mata pelajaran tentang "nembang" atau menyanyi menggunakan Bahasa Jawa. Namun, karena guru yang bersangkutan tidak bisa "nembang", akhirnya mata pelajaran tersebut dihindari.

Selain itu, kata dia, beberapa materi bahasa daerah juga dipandangnya hanya aplikasi, atau yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Murid tidak dikenalkan untuk mengetahui secara mendetail, tentang beberapa materi atau bahasa yang sudah ada sejak dulu.

Ia khawatir, dengan kondisi tersebut, akan berdampak buruk, terutama bahasa daerah, karena beberapa kosakata akan hilang. Bahkan, para generasi muda, tidak mengenal bahasa daerahnya sendiri.

Bahasa daerah di Kediri dengan daerah lain, kata dosen yang saat ini berupaya meraih gelar Doktor (S-3) di Universitas Malang (UM) tersebut, juga unik. Hal itu disebabkan, Kediri termasuk daerah Mataraman (Jatim belahan Barat). Bahasa daerah di Kediri dan sekitarnya, juga lebih halus ketimbang daerah lain.

Sayangnya, untuk literatur mengenai bahasa tersebut, ia mengaku belum pernah melihat. Hanya ada diskusi-diskusi rutin yang dilakukanya dengan beberapa pecinta kebudayaan yang saat ini tergabung dalam Komunitas Edhum Kediri.

Yang ada saat ini, justru beberapa literatur buku yang menjelaskan tentang etika Bahasa Jawa, di antaranya Etika Jawa Sebuah Analisis Falsafi Tentang Kebijakan Hidup Jawa yang ditulis Frans Magnis Suseno tahun 1985, yang diterbitkan PT Gramedia, Tingkat Tutur Bahasa Jawa, yang ditulis oleh Soepomo Pudjosudarmo tahun 1979, serta beberapa judul lainnya.

Sutjahjo mengungkapkan, sebenarnya, Bahasa Jawa itu sama dengan Bahasa Indonesia dari segi tingkatanya, seperti untuk Bahasa Jawa ada "ngoko", "kromo", "kromo inggil", maupun lainnya. Hal itu, juga terlihat dari Bahasa Indonesia, mempunyai tingkatan yang berbeda, ketika bertemu dengan mereka yang umurnya sama, maupun yang lebih tua.

"Sayangnya, untuk Bahasa Jawa lebih banyak ditinggalkan, sehingga banyak kosakata yang dilupakan," paparnya.

Bahkan, ia mensinyalir, saat ini terdapat sekitar 50 persen Bahasa Jawa sudah mulai hilang, karena jarang digunakan. Ia khawatir, jika hal itu dibiarkan, bahasa yang merupakan peninggalan sejarah, juga akan punah.

Ia berharap, pemahaman sebagai upaya untuk menyadarkan bahwa identitas budaya itu sangat penting. Sayangnya, hal itu masih belum disadari dengan baik, dari lembaga pendidikan, maupun dari pemerintah.

Padahal, untuk penggunaan bahasa daerah, selain sebagai identitas diri, juga menekankan budi pekerti, karena di dalamnya, para pemuda diberi pendidikan, untuk bagaimana bisa menghargai baik kepada satu tingkatan maupun mereka yang lebih tua.

"Seharusnya, pemerintah daerah berperan aktif untuk tetap melestarikan bahasa daerah. Dengan itu, besar kemungkinan bahasa daerah tidak akan hilang," katanya menegaskan.

Ia juga menilai, identitas Bangsa Indonesia saat ini masih lemah, dan belum bisa menghargai budaya sendiri. Hal itu seperti beberapa kasus yang terjadi, yaitu kasus Reog Ponogoro, kain batik, maupun beberapa kasus lainnya.

Berbagai kebudayaan dari dalam negeri baru akan diakui, setelah terjadi pengakuan maupun penghargaan dari bangsa asing.


Kurang mendukung
Kurikulum Pendidikan Bahasa Jawa terutama di wilayah Jawa Timur, khususnya Kediri, juga kurang begitu mendukung untuk melestarikan bahasa daerah. Bahkan, dalam pelajaran, guru juga lebih menekankan kepada murid untuk menggunakan bahasa sehari-hari, ketimbang berusaha mengenalkan beberapa bahasa daerah lainnya.

Sehingga, tidak ayal lagi, banyak murid yang merasa bahasa daerah itu sulit. Bahkan, ada beberapa di antaranya yang tidak begitu suka, dan memilih mata pelajaran lainnya.

Ironisnya, guru bahasa daerah banyak yang bukan lulusan perguruan tinggi bersangkutan, melainkan dari disiplin ilmu yang berbeda. Saat ini hanya terdapat delapan guru bahasa daerah yang memang lulusan dari sekolah bahasa daerah, sementara sisanya dari disiplin ilmu yang berbeda.

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kota Kediri, Hartiningsih mengaku, ia tidak ingin terlalu menekan kepada anak didiknya, sehingga dalam pemberian pembelajaran di sekolah, ia lebih menekankan penggunaan bahasa sehari-hari.

"Ada beberapa murid yang merasa bahasa daerah sulit, jadi, ketika saya meminta mereka untuk membuat artikel bahasa daerah, saya membiarkan mereka untuk menggunakan bahasa sehari-hari," katanya mengungkapkan.

Ia mengaku, sudah berupaya untuk tetap mengenalkan kepada anak didiknya, tentang bahasa daerah. Selain digunakan untuk kegiatan sehari-hari, ia juga menekankan bahasa daerah itu tidak sulit.

Ia juga berharap, porsi bahasa daerah bukan hanya menjadi muatan lokal saja, melainkan bisa lebih. Sayangnya, hal itu belum tercapai. Bahkan, saat ini kurikulum untuk bahasa daerah di Jawa Timur belum diterapkan, sehingga pihaknya harus membuat kurikulum sendiri.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Umum (Kabid Dikmenum) Dinas Pendikan Kota Kediri, Heri Siswanto mengaku, saat ini memang untuk bahasa daerah hanya menjadi muatan lokal saja dalam pendidikan. Namun, pihaknya akan berupa semaksimal mungkin, untuk tetap melestarikan bahasa daerah, di antaranya dengan memperbaiki kurikulum yang ada.

Ia tidak ingin, bahasa daerah, akan kehilangan identitasnya, sehingga menjadi asing di telinga anak-anak. "Kami akan memperbaiki kurikulum yang ada, terutama untuk bahasa daerah. Kami tidak ingin, bahasa yang merupakan identitas budaya ini terdengar asing di telinga anak-anak," tuturnya.

Bagi beberapa orang, bahasa daerah juga dinilai kurang memasyarakat. Tidak semua orang bisa memahami bahasa yang merupakan asli dari daerah ini. Bahkan, penggunaaan bahasa daerah dengan halus, banyak dilakukan dalam kegiatan upacara atau resmi (formal), seperti pengantin.

"Tidak semua orang mengetahui atau memahami bahasa daerah (Jawa). Bahkan, bahasa satu dengan lainnya juga tidak sama, walaupun artinya sama," kata praktisi pendidikan bahasa, Sutjahjo Gani.

Ia mencontohkan, Bahasa Jawa "ora" di Solo akan lebih dipahami ketimbang kata "gak", walaupun artinya sama yaitu tidak. Dan kata "tibo" akan lebih dipahami oleh orang Solo ketimbang "ceblok", walaupun artinya sama, jatuh.

Bahkan, kata dia, penggunaan bahasa daerah secara halus, terutama di Kediri hanya digunakan dalam kegiatan tertentu, seperti upacara pengantin, maupun berbagai ritual lainnya (budaya). Sementara, untuk sehari-hari lebih digunakan bahasa daerah sehari-hari, seperti "ngoko" maupun "ngoko alus".

"Bahkan, banyak saat ini dalam keluarga juga tidak dikenalkan untuk 'boso' atau menggunakan bahasa daerah. Lebih banyak yang menggunakan bahasa 'ngoko' atau bahasa sehari-hari, sehingga tidak ada bedanya berkomunikasi kepada orang yang seumur, maupun kepada yang lebih tua," paparnya.

Ia menilai, saat ini penggunaan bahasa daerah kurang diminati. Hal itu dimungkinkan, sudah mulai ada penjajahan dari kapitalis, dengan masuknya bahasa asing, sehingga masyarakat lebih suka menggunakan bahasa asing, ketimbang mengakui identitas budaya sendiri.

Bahkan, ia juga menilai, peran media massa harus diperhatikan dalam masalah ini. Karena, dari hasil penelitian yang ia lakukan di beberapa daerah di luar Jawa, ketika meraih gelar S-2, ternyata banyak kosakata dari daerah yang masuk ke dalam bahasa jurnalistik.

Ia khawatir hal itu juga dapat merusak tatanan bahasa yang sudah ada, sebab, peran media juga sangat penting untuk tetap melestarikan bahasa, baik bahasa daerah maupun Indonesia.

Beberapa keluarga mengaku, menerapkan penggunaan bahasa untuk mendidik anak-anaknya tata krama. Namun, ada juga beberapa keluarga yang memang membiarkan mereka untuk berkomunikasi dengan caranya sendiri.

Seperti yang diungkapkan oleh Yuli (23), warga Kelurahan Banjaran, Kota Kediri. Ia mengaku, tidak pernah dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk menggunakan bahasa daerah halus dalam komunikasi sehari-hari.

"Kadangkala, saya biasa 'boso' (menggunakan Bahasa Jawa halus) kepada orang tua, juga kadang tidak. Kepada orang lain, saya pasti 'boso' meski tidak halus," ujarnya.

Ia merasa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah itu, lebih halus dan lebih dekat ketimbang bahasa lainnya. Selain merupakan bahasa daerah, beberapa orang juga lebih mudah diajak berkomunikasi ketimbang bahasa lain.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Lisa (24). Ia bahkan mengaku, kepada orang tua tidak menggunakan Bahasa Jawa halus, melainkan "ngoko" atau biasa. Ia merasa lebih santai, ketimbang harus "boso" kepada orang tua.

"Saya sejak kecil tidak pernah diajarkan untuk 'boso' kepada orang tua, rasanya aneh jika hal itu dilakukan," kata Lisa.

Belajar Sambil Bekerja (Kisah Seorang anak Tambal Ban)

Kamis sore, seperti biasa saya mengambil motor saya di parkiran setelah usai pulang sekolah. Namun, ada sesuatu yang tiba-tiba tidak enak ketika motor dinaiki, ternyata ban motor saya bagian belakang kempis dan sudah bisa dipastikan bocor lagi. Sebab baru saja tadi pagi saya tambal, dan ternyata nambalnya belum rapih benar, dan pasti masih ada paku atau benda lain yang masih menempel di ban motor sehingga ban motor kempis lagi. Begitu pikir saya.

Dari sekolah Labschool, saya mencari tukang tambal ban yang berlokasi di sekitar jalan pemuda. Alhamdulillah setelah berjalan beberapa meter, saya temui tukang tambal ban, sehingga saya tak perlu jauh berjalan mencari tukang tambal ban. Kebetulan beberapa bulan lalu saya juga pernah menambal ban di tempat ini. Saya temui seorang bapak yang menjadi tukang tambal ban yang sangat ramah melayani para pengendara motor maupun mobil yang membutuhkan jasanya.

Tetapi, ada yang aneh dan menurut saya luar biasa terjadi di tempat ini. Ternyata si tukang tambal ban, ketika saya datang sedang mengajari anaknya belajar matematika. Anaknya kebetulan sekarang ini sudah kelas 7 di salah satu sekolah negeri di Jakarta Timur. Bapak dan anak terlihat sekali sangat akrab.

Terjadilah percakapan saya dengan tukang tambal ban.

Saya : “Pak bisa tambal ban?”

Tukang tambal ban: “bisa pak!”

saya: “tadi pagi baru saja saya tambal pak!, mungkin masih ada paku atau benda tajam lainnya yang masih menempel di ban luar, tolong dicek ya pak!”

tukang tambal ban: “baik pak, nanti saya check!”

Saya lalu duduk dan beristirahat sejenak, membeli aqua yang juga dijual di lokasi tambal ban ini. Selain membuka tambal ban, mereka juga membuka kios minuman dengan menggunakan roda di sore hari. Polisi pamong praja melarang mereka berjualan minuman di pagi hari. Alasannya dilarang berjualan di pinggir jalan pada pagi hari karena akan menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Pada saat duduk itu saya tertarik dengan anak dari tukang tambal ban yang sedang mengerjakan tugas matematikanya. Wah, hebat! Sambil bekerja masih sempat buat PR, begitulah pikir saya. Lalu terjadilah dialog saya dengan anak tukang tambal ban yang belakangan saya ketahui bernama wias.

saya: “lagi apa de?”

wias: “lagi ngerjain tugas matematika sekolah, pak!”

saya: “siapa namamu?”

wias: “wias pak!”

saya: “Wah, hebat kamu, sambil bekerja bantu bapak, masih bisa mengerjakan tugas pula”.

wias: “iya pak, mumpung sempat dan bisa diajarin sama bapak” (dia menunjuk bapaknya yg sedang mengerjakan tambal ban)

saya: kamu sekolah dimana dek?

wias: “saya sekolah di smp negeri, dekat sini pak!” (Dia menujuk satu sekolah yg dekat bengkel, saya tahu sekolah mana yang dimaksud)

Wias sedang Membantu bapaknya menambal Ban Motor
Wias sedang Membantu bapaknya menambal Ban Motor

Saya terus memperhatikan wias mengerjakan PRnya dan tak lama kemudian, dia telah kembali membantu bapaknya menambal ban motor saya bagian belakang. Sambil bekerja itu, saya bertanya kepada bapaknya, apakah wias dapat bea siswa dari sekolah?. Lalu pak tambal banpun mengatakan bahwa sekolah negeri sekarang sudah gratis, tak ada lagi iuran tiap bulan. Hanya buku dan seragam harus beli sendiri, dan buat mereka ini sangat membantu, sebab tidak ada lagi iuran tiap bulannya yang menjadi beban hidup mereka.

Sambil menambal ban itu, terjadi dialog serius antara saya dengan tukang tambal ban. Intinya, tukang ban merasa bahwa pemerintah daerah DKI Jakarta sudah mulai memperhatikan pendidikan wong cilik.

Dari dialog itulah saya banyak belajar dari bapak dan anak ini, bekerja, belajar dan berdoa (3B) sudah menjadi three in one dalam keseharian mereka. Mereka terus berusaha mencari sesuap nasi, walau terkadang polisi pamong praja selalu mengusir mereka karena dianggap melanggar tata tertib dan tak berijin. Berjualan dan menambal ban di pinggir jalan raya. Memang dilematis juga yah, satu sisi mereka melanggar, tetapi disisi lain mereka membantu orang lain yang ban kendaraannya kempis. Coba anda bayangkan kalau tidak ada tukang tambal ban dipinggir jalan, pastilah banyak orang kesulitan mencari tukang tambal ban. Termasuk saya, yang sudah merasakan adanya manfaat dari tukang tambal ban dipinggir jalan ini.

Berjualan Minuman sambil menambal ban
Berjualan Minuman sambil menambal ban

Selesai mmbantu bapaknya, wias pun meminta izin kepada bapaknya untuk ke mesjid, sholat Maghrib Sepeda yang ada di tempat itu mengantarkan wias ke rumah Allah. Saya salut dengan anak ini. Terus bekerja, belajar, dan berdoa. Semua itu, hasil didikan dari bapaknya yang seorang tukang tambal ban yang tak pernah lupa sholat lima waktu. Mengajari anaknya matematika, ketika sedang bekerja menunggu orang yang memerlukan jasanya. Malampun tiba, dan bapak tambal ban itu pun mulai merapihkan peralatannya dan bersiap untuk bergantian dengan anaknya melaksanakan sholat mahgrib.

Semoga orang-orang seperti ini dimurahkan rezekinya oleh Allah, dan saya pun mengucapkan terima kasih kepada bapak tuang tambal ban yang sangat teliti. Setelah dengan sabar mencari dimana sumber bocornya ban, ditemukan potongan cutter kecil di sela-sela ban luar. inilah yang menyebabkan ban motor saya kempis dan harus ditambal. Terima kasih pak, saya pun tersenyum lega dan mampir ke masjid untuk sholat mahgrib, lalu pulang ke rumah dengan perasaan haru. Ternyata masih ada orang yang belajar sambil bekerja dan taklupa juga berdoa.

Saya banyak belajar dari wias dan bapaknya, hidup butuh kerja keras, dan terus belajar dan bekerja menjemput rezeki Allah. Lalu tak lupa pula menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah.

oleh : http://wijayalabs.com

Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Anak Desa

Dengan diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) saat ini, guru dituntut mampu mengembangkan kurikulum dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa. Metode pembelajaran bahasa Inggris sangat banyak ditawarkan. Lembaga kursus, misalnya, menawarkan metode pengelompokan berdasar kemampuan peserta didiknya dengan level yang berbeda. Misalnya, level pemula (basic), kemudian level bisa (intermediate). Tujuannya memudahkan penyampaian materi pelajaran.

Guru yang mengelola siswa berlatar belakang menengah ke atas (di daerah perkotaan) dengan sarana pendidikan memadai, apalagi siswa itu juga mengikuti kursus (bahasa Inggris), akan mudah menerapkan metode pembelajaran yang lebih. Lalu, bagaimana metodenya jika kita mengajar di sekolah dengan siswa berkemampuan rendah di desa dan berasal dari kalangan menengah ke bawah?

Sebagai guru yang mengajar di Sugihwaras, jauh dari pusat Kota Bojonegoro, berikut penulis mencoba tukar pengalaman tentang metode pembelajaran yang penulis sebut sebagai The Mixed 4 Language Skill Method. Yakni, menggabungkan empat kemampuan bahasa, speaking (berbicara), listening (mendengarkan), reading (membaca), dan writing (menulis). Hanya, dalam menerapkan metode ini, guru terlebih dulu harus membuat rencana dengan matang.


1. Pengajaran pengenalan kosa kata baru (vocabularies)

Untuk dapat memahami pembelajaran bahasa Inggris serta dapat menggunakan empat kemampuan bahasa, seorang guru terlebih dulu mengenalkan kosa kata yang disesuaikan dengan tema (description text/physical description) pada silabus. Pada metode ini, ada beberapa langkah:

Step 1: Guru memberikan background knowledge of teaching (BKOT). Yakni, menerangkan dan memberikan contoh-contoh (modeling) dengan cara : a) meminta murid memakai pakaian bebas/menyiapkan gambar-gambar artis terkenal dari majalah/kota. b) Memberikan modeling/contoh :* Rina stand up please! She is thin and short and wears T-Shirt with collar and mini skirt. *Adi stand up please! He wears short and T-Shirt. *Dian Sastro wears blues with long sleeves and jeans trouser (sambil menunjukkan gambar serta menuliskan kalimat di papan tulis).

Step 2: Guru menganalisis feed back (umpan balik) dari siswa: a) Memberi kesempatan siswa melatih kemampuan beberapa menit. b) Menunjuk siswa untuk menganalisis pakaian dari teman-teman mereka atau gambar yang diberikan. Jika siswa lebih dari 20, guru memberikan analisis kemampuan spelling kata-kata yang diterima.

Step 3. Guru memberikan modeling untuk memasukkan text description Contoh: Rina is short and thin girl, her full name is Rina Kusuma…

Now she wears… dan seterusnya.
Pada pembelajaran ini, juga bisa digunakan guessing picture (menebak gambar). Caranya?

Step 1: Guru menggambar dari objek kata yang akan ditanyakan. Bisa kata benda, kata kerja, dan lain-lain.

Step 2. Guru meminta salah satu siswa ke depan, meminta mengambil lotre berisi kosa kata baru dan menggambarkan untuk dijawab temannya, dan seterusnya.


2. Pembelajaran structure (tata bahasa)

Dalam pembelajaran structure, biasanya hanya dikenalkan bentuk-bentuk rumusnya serta latihan soal. Pada pembelajaran ini, siswa dipadu untuk melakukan speaking. Contoh: Pembelajaran present tense (tema kegiatan sehari-hari kelas VII). Tahapnya berikut ini:

Step 1: Guru memberi model gesture (gerakan badan) kegiatan sehari-hari sambil menulis kalimatnya di papan tulis.

Step 2: Mempersilakan siswa memeragakan dengan gesture serta mengungkapkan kata kerjanya.

Step 3: Guru menerangkan membaca jam (telling time) berapa menit dan memberikan latihan beberapa menit.

Step 4: Guru menerangkan bentuk structure simple present tense.

Step 5: Guru menganalisis feedback siswa dengan memberi pertanyaan ke siswa.

Contohnya, guru: Anis, What do you do at 7.00 PM (sambil menerangkan kegunaan simple present tense beserta menuliskan pertanyaan yang diajukan). Anis menjawab: I read Alquran (sambil menanyakan kegunaan simple present pada bentuk positif… dan seterusnya.

Step 6: Guru membimbing dan mengawasi siswa melatih bertanya kepada salah seorang temannya. Memberikan tabel jawaban dari teman-teman mereka. Contoh tabel hasil percakapan.

Step 7: Guru membimbing siswa membuat laporan dari dialog yang diperoleh, lantas jadilah text recount. Contoh teks: Diah’s family activities.
Diah is a diligent girl, She always gets up at 04.30, her mother cooks in… dst.


3. Mengajarkan dengan memasukkan structure, language expressing. Juga bisa digunakan pembelajaran speaking, reading, writing.

a. Text Narrative

Cara:
1. Sebelumnya, guru menjelaskan kegunaan structure (penggunaan look, look like, simple future (pada pelajaran kelas VIII), language expressing (admiration, congratulation).

2. Guru membimbing siswa dengan memilih dongeng yang populer di kalangan siswa.

3. Guru membimbing siswa menyusun skrip dialog berdasar structure dan language expressing.

4. Guru memberikan kesempatan berlatih peran (drama dari dongeng yang dipilih) sehingga bisa dijadikan pembelajaran speaking.

5. Setelah penilaian speaking, guru membimbing pembelajaran reading dengan cara memberikan pertanyaan berdasar cerita dari masing-masing kelompok yang terlebih dahulu mengenalkan bentuk text narrative.

6. Untuk penilaian writing, guru dapat meminta siswa membuat surat tidak formal dan kartu ucapan kepada temannya yang kalimat-kalimatnya berisi structure/language expressing. Kartu itu kemudian dikirimkan langsung melalui kantor pos terdekat. Khusus kartu ucapan diberikan saat momen yang tepat.


b. Text Procedural

Cara: 1. Guru meminta siswa membawa cooking toys (alat masak mainan).
2. Guru mengenalkan generic structure dari text procedural.
3. Guru mengenalkan kosa kata dengan gesture. Contoh: stir (mengaduk), fray (menggoreng), dan seterusnya dengan mainan yang dibawa.
4. Menilai siswa dengan memberi kesempatan siswa mereka memeragakan hasil text dengan alat mainan.

Demikian beberapa contoh langkah-langkah mengajarkan Mixed 4 Language Skill. Kesimpulannya, siswa akan mudah menerima bila bisa mendengarkan, melihat, dan merasakan apa yang mereka peroleh dari pengajar mereka. (*)

Sumber: http://indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=319732

Manfaat Kursus Gambar, Melukis pada Anak

Menggambar dan mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Lewat menggambar, mereka bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka. Gambar-gambar yang mereka hasilkan menunjukkan tingkat kreativitas masing-masing anak.

Orang tua yang peduli dengan perkembangan kreativitas putra-putrinya biasanya akan mengikutkan mereka Kursus Gambar, kursus melukis sejak dini. Semakin muda usia anak, semakin mudah diarahkan.

Menurut pelukis senior sekaligus pengajar lukis Asri Nugroho, usia yang paling baik bagi anak untuk belajar melukis atau ikut kursus gambar adalah empat tahun. Pada masa tersebut, anak-anak paling suka bermain-main. Karena itu, gambar-gambar kartun yang mereka hasilkan bisa beragam, bergantung kesukaan masing-masing anak. “Ketika anak usia empat tahun belajar melukis atau kursus gambar, mereka harus dibiarkan dan terus dipuji. Tindakan tersebut bisa memancing kreativitas dia,” ujarnya.

Memasuki usia sekolah dasar, gambar yang dihasilkan mulai berbentuk. Pada usia 11 sampai 12 tahun, fantasi anak yang dituangkan dalam gambar lebih terlihat. “Bisa dibilang, pada usia ini, gambar kartun mereka itu sedang bagus-bagusnya,” kata pelukis yang tinggal di Perumahan Gunung Sari Indah tersebut.

Menurut Asri, saat ini ada banyak alternatif peralatan melukis. Namun, yang paling tepat bagi anak-anak usia TK hingga SD adalah krayon atau pensil warna. ”Karena mereka belum tahu materi dan sifat dari peralatan menggambar tersebut,” terang pelukis yang selalu mengucir rambutnya itu. Penggunaan cat air lebih disarankan bagi mereka yang sudah menginjak bangku SMP.

Menggambar atau kursus gambar, lanjut Asri, memiliki banyak manfaat. Salah satu manfaat yang paling terlihat dari kursus gambar adalah membantu mengembangkan fungsi otak kanan. ”Kalau sejak dini sudah belajar menggambar dan ikut kursus gambar, perkembangan otak kanannya juga cepat sehingga kreativitasnya bisa berkembang dengan baik,” imbuh Asri.

melafirraz.wordpress.com

Mengembangkan Sekolah Hutan di Mentawai

Sekolah hutan adalah program Divisi Pendidikan YCMM (Yayasan Citra Mandiri Mentawai) yang banyak diapresiasi masyarakat adat Mentawai, karena telah membuka kesempatan bagi masyarakat Mentawai yang terpencil di pedalaman untuk tetap mendapatkan pendidikan. Tapi dibutuhkan tenaga pengajar yang berdedikasi tinggi untuk menjaga kesinambungannya, karena tantangannya memang sangat berat.

Letaknya sungguh jauh di pedalaman Sila’oinan, tepatnya di Sangong, Dusun Salappa’, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Dari pusat Dusun Salappa’, Sekolah Hutan Sangong bisa dicapai dalam setengah jam dengan pompong (perahu bermesin).

“Itu kalau air pasang, kalau air surut waktu tempuh baru bisa mencapai 1,5 jam, bahkan dua jam, karena banyaknya rintangan berupa tunggul kayu, batang pohon yang hanyut, pohon rebah, gosong pasir dan beragam sampah lainnya. Sungai yang dangkal semacam ini sangat tidak nyaman ditempuh.

“Kalau dengan sampan tanpa mesin bisa setengah hari,” kata Timatheus Salaisek, kooperator pompong dalam perjalanan ke Sangong beberapa waktu lalu.

Sesuai namanya, Sekolah Hutan Sangong tak seperti sekolah biasa. Tak ada kelas. “Murid hanya dipisahkan berdasarkan kemampuan pengenalan huruf dan angka, selebihnya disamakan saja,” kata Tarida Hernawati, Koordinator Divisi Pendidikan YCMM saat ditemui di Sangong.

Muridnya berjumlah 19 orang. “Sebelumnya 23, tapi ada 4 yang tak datang-datang lagi,” ujar Suendi Salaisek (23), guru sukarela tamatan SMA Negeri Muara Siberut yang digaji Rp600 ribu ditambah transportasi Rp400.000 per bulan.

Mereka belajar di lantai kandang babi Sangong atas izin kepala suku Aman Sabaogok, tanpa fasilitas apapun. Tak ada kursi, tak ada meja, tak ada seragam. Sistemnya modern seperti sekolah-sekolah di Amerika: tak perlu seragam, tak harus duduk berpangku tangan di meja, bahkan tak perlu alas kaki, boleh bertanya dan bicara kapan saja, dan boleh belepotan lumpur ala gulat lumpur yang mahal itu, bedanya di Sangong, aroma ruang belajar didominasi bau kandang babi dan sagu makanannya yang rada masam.

Para siswa, terdiri dari 12 pria dan 7 wanita, duduk bersila di lantai kandang babi. Menyimak dengan serius pelajaran yang diberikan guru. Sesekali mereka bersujud sampai rata dengan lantai agar bisa menuliskan perkataan guru yang mereka anggap penting. Sesekali melap ingus yang keluar tanpa permisi. Kelompok ‘ekslusif’, yakni yang belum mengenal huruf dan angka dengan baik, dipersilakan menempati sudut tersendiri di bagian lain beranda untuk memelototi angka dan huruf yang dipajang di papan tulis di depan mereka.

Sarana belajar yang tersedia hanyalah meja untuk guru, bangku panjang uma sebagai kursinya, sebuah papan tulis di dinding beranda yang dikelilingi oleh poster-poster peraga pelajaran seperti angka, alfabet, simbol-simbol matematika tambah, kurang, bagi, kali, yang bercampur dengan poster-poster caleg yang ikut pemilu 2008 dan stiker beberapa partai.

Minat Tinggi

Minat belajar anak-anak, menurut Tarida cukup tinggi. “Olelakeu, misalnya, siswi ini harus berjalan dua jam setiap hari dari rumahnya ke sekolah sambil menuntun ibunya yang buta,” ungkap Tarida.Murid-murid lainnya datang dengan mengayuh perahu sendiri dari rumah-rumah mereka yang terpencar di sekitar Sangong. “Anak-anak di sini sudah bisa mengemudikan sampan sejak lengan mereka mulai bertenaga,” ungkap Ida.

Memang, tak semuanya bersemangat. “Kalau tiba-tiba diajak orang tuanya ke Muara Siberut–ibu Kecamatan Siberut Selatan–atau ada punen (lia) atau pesta, anak-anak bisa libur sesukanya, tanpa merasa perlu memberi tahu gurunya,” kata Tarida lagi. Meski demikian buku absen tetap disediakan dan frekuensi kehadiran siswa dicatat.

Karena tingginya minat dan ada dukungan positif dari Paroki Muara Siberut, YCM bermaksud membuka lagi sekolah serupa di Tinambu, lokasi yang lebih jauh ke hulu. “Di sana ada sekitar 40 KK yang membutuhkan pendidikan,” kata Tarida.Informasi terakhir sekolah tersebut sudah berdiri dan memiliki 40 orang.

Mereka sama dengan warga di Sangong, yang sebelumnya ikut program PKMT (Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing) Depsos ke Saliguma. Tapi karena ladang dan ternak mereka berada di Tinambu, yang jaraknya setengah hari jalan kaki dari Saliguma, orang-orang ini kembali ke Tinambu dan meninggalkan segala fasilitas yang diberikan Depsos–antara lain rumah dan lahan kebun masing-masing seluas 2 hektar—begitu saja.

“Rumah saya di Saliguma sudah hancur, terpaksa saya tinggalkan karena babi, ayam dan sagu saya di sini, anak-anak juga tak mungkin tinggal dan bersekolah di situ tanpa orang tua, kalau harus berangkat dari sini jauhnya 5 jam jalan kaki, tak mungkinlah,” kata Aman Sabaogok.

Sekolah Kedua

Menurut Tarida, sekolah hutan di Sangong merupakan sekolah hutan yang kedua di Siberut Selatan. “Yang pertama di Beikeluk—masih bagian Salappa’ meski warganya dari Madobag–kita buka tahun 2006. Setahun berjalan kita serahkan ke Paroki Muara Siberut, yang lebih punya kompetisi di bidang pendidikan,” kata Tarida.

Untuk kelancaran proses belajar mengajar YCM masih memfasilitasi kelengkapan sekolah, seperti alat-alat tulis, buku tulis, buku-buku paket, kapur, serta tentu saja guru, dan lain-lain.

Sekolah Hutan Sangong, kata Tarida mulai disosialisasikan tahun 2007. “Agustus 2008 baru dimulai, sekarang sudah ada pula perhatian dari Paroki Muara Siberut, mungkin tahun ini sudah bisa pula kita lepas, terutama kalau jumlah muridnya memadai,” imbuh Tarida yang sarjana antropologi tamatan USU Medan.

Tahun 2009, YCMM berencana membuka sekolah hutan ketiga, ya di Tinambu tadi. “Kurang lebih 3 jam dari Sangong,” jelas Tarida tapi baru tahun 2010 terealisasi.

Bagaimana dengan kelanjutan pendidikan anak-anak tersebut. Menurut Tarida, kalau mengikuti contoh di Beikeluk takkan ada masalah, karena paroki akan memberikan semacam sertifikat pengakuan, sehingga kalau memang mau anak-anak tersebut bisa melanjutkan sekolah di sekolah-sekolah milik Paroki di Muara Siberut di kelas yang disesuaikan dengan kemampuan kognitif mereka.

Menurut Tarida, YCMM juga menyiapkan rapor untuk masing-masing siswa, “Siapa tahu berguna untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, karena target kami hanya sampai tiga tahun, kecuali perkembangannya menuntut lain,” ujar Ida.
kompasiana.com

Senin, 07 Juni 2010

Pendidikan Nasional Kehilangan Arah

Selasa, 1 Juni 2010 |JAKARTA, KOMPAS.com — Pendidikan di taman kanak-kanak sudah mengajarkan pelajaran berhitung, dan bahasa Inggris. Perguruan tinggi marak membuka pendidikan kewirausahaan (entrepreneur). Di tingkat sekolah menengah digalakkan sekolah berstandar internasional. Sekolah asing juga bertebaran. Ini gambaran pendidikan nasional kita yang kehilangan arah.

Persoalan krusial lainnya, di pendidikan tinggi pemerintah telah mengeluarkan berbagai aturan sebagai dasar hukum penyelenggaraannya. Akan tetapi, ternyata aturan-aturan yang dibuat tidak lepas dari agenda dan pengaruh lembaga-lembaga keuangan internasional dengan diterapkannya Washington Concencus dan Structural Adjustment Program. Akibatnya, kebijakan pendidikan yang dihasilkan lebih condong pada kepentingan pasar, bukan pada pemenuhan hak-hak warga negara atas pendidikan.

Demikian benang merah Dialog Publik dengan topik "Nasib Pendidikan Indonesia Pascapencabutan UU BHP", yang digelar Komite Bersama Aksi rakyat (Kobar) 2 Mei bekerja sama dengan Serikat Mahasiswa Universitas Paramadina, Selasa (1/6/2010) di Universitas Paramadina, Jakarta. Tampil sebagai pembicara, pakar pendidikan HAR Tilaar dan Koordinator Nasional e-Net for Justice, Eny Setyaningsih.

HAR Tilaar mengatakan, komersialisasi pendidikan yang semakin menjadi-jadi dewasa ini dan menyebabkan warga kalangan miskin tidak bisa mendapatkan pendidikan. Hal ini bertentangan sekali dengan amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. "Kita negara kere, miskin, tapi biaya pendidikan sangat mahal," tandasnya.

Tilaar juga mengkritik pendidikan di semua tingkat pendidikan yang mencerminkan pendidikan nasional kehilangan arah. Hal itu seperti taman kanak-kanak yang mengajarkan Matematika dan Bahasa Inggris. Seharusnya hal itu tidak diajarkan karena masa kanak-kanak itu adalah masa bermain. Ini diperparah kalau masuk sekolah dasar anak-anak ditanya dulu apa sudah TK atau sudah bisa berhitung.

Pada tingkat sekolah menengah, ada pula sekolah berstandar internasional yang hasilnya, apakah berwatak Indonesia, masih perlu dipertanyakan. Pendidikan sudah menjadi ajang bisnis. Pendidikan sebagai lembaga bisnis bukan untuk kepentingan anak, melainkan kepentingan bisnis semata.

Di perguruan tinggi juga marak pendidikan kewirausahaan. Seharusnya pendidikan kewirausahaan dimulai dari pendidikan dasar, bukan hanya di perguruan tinggi. "Kalau hanya diajarkan di perguruan tinggi, tak akan berhasil. Sudah karatan. Ke depan, bangsa ini membutuhkan manusia-manusia kreatif yang bisa menciptakan lapangan kerja bagi dirinya dan orang lain," papar Tilaar.

Eny Setyaningsih yang membahas Peran Lembaga Keuangan Internasional dalam Kebijakan Pendidikan di Indonesia mengatakan, di pendidikan tinggi, pemerintah telah mengeluarkan berbagai aturan sebagai dasar hukum penyelenggaraannya.
"Akan tetapi, aturan-aturan yang dibuat ternyata tidak lepas dari agenda dan pengaruh lembaga-lembaga keuangan internasional dengan diterapkannya Washington Concencus dan Structural Adjustment Program. Akibatnya, kebijakan pendidikan yang dihasilkan lebih condong pada kepentingan pasar, bukan pada pemenuhan hak-hak warga negara atas pendidikan," katanya.

Menurut Eny, pendidikan di Indonesia harus dikembalikan sebagaimana diamanatkan konstitusi karena di situlah hakikat pendidikan untuk kebudayaan, identitas, dan kedaulatan.

Selamat Datang di Blog ini...

PENDIDIKAN adalah Kunci Utama Kemajuan Bangsa. Dengan kata lain, maju mundurnya suatu bangsa adalah tergantung maju mundur pendidikannya.
Seiring dengan semakin cepatnya perkembangan dunia pendidikan khususnya pendidikan nonformal dan informal dalam memasuki abad ke-duapuluh satu, semakin tampak jelas pula betapa masyarakat umum telah menekan pihak pemerintah dan instansi pendidikan untuk meningkatkan kemampuan kapabilitas sumber daya manusia dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.
Jangan lupa salah satu determinan peningkatan mutu pendidikan didalamnya adalah guru2/para tutor/pamong belajar kita. Mari sekarang kita benahi bersama seusai dengan PP 17/2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di indonesia. Untuk itulah dalam rangka penjaminan mutu pendidikan pemerintah pusat dan daerah harus segera merealisasikan akreditasi dan sertifikasi, baik : akreditasi program pendidikan, satuan pendidikan , sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan , dan dalam hal ini pemerintah pusat dan daerah jangan terlau lama2 segeralah keluarkan/terbitkan permendiknas atau payung hukum lainnya atau pergub yg dapat mengakomodir percepatan penjaminan mutu perdidikan di indonesia ,jika tidak......kualat selamanya (kita tahu pepatah jadul "guru kecing berdiri murid akan kecing berlari apakah ini ada kaitannya semuanya...)
Blog ini mengajak kepada siapa saja untuk bertukar Ide, Gagasan, Pengalaman, Saran atau Kritik yg Konstruktif demi kemajuan Pendidikan serta masa depan Generasi Bangsa.
semoga melalui situs saya ini, menjadi bahan masukan dalam mengkaji pendidikan masyarakat yang berkesinambungan